Kasus Trafficking bagaikan Gunung Es

BERDASARKAN data Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (Kopbumi), sepanjang tahun 2001 ada sebanyak 74.616 tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri menjadi korban trafficking.

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada tahun 2002 memperkirakan sekitar 500.000 warga Indonesia melalui jalur resmi bekerja di luar negeri. Sementara laporan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Indonesia, termasuk Kopbumi, memperkirakan buruh migran yang bekerja di luar negeri mencapai 1,4 juta sampai 2,1 juta, termasuk yang tak terdokumentasi.

Laporan lain menunjukkan dari Konferensi Organisasi Buruh Internasional (ILO) 2001 memperkirakan ada sekitar 1,4 juta pembantu rumah tangga di Indonesia, sebanyak 23 persen adalah anak-anak. Laporan ILO tahun 1998 memperkirakan 130.000-240.000 pekerja seks di Indonesia dan 30 persen di antaranya adalah anak-anak di bawah umur 18 tahun.

ANGKA-angka tersebut menunjukkan betapa besarnya potensi perdagangan perempuan dan anak yang menjadi korban trafficking dari Indonesia. Harus dipahami pula banyaknya kasus trafficking di Indonesia bukan berarti menjadi tanggung jawab kepolisian Batam atau Provinsi Kepulauan Riau saja.

Penanganannya harus menjadi tanggung jawab bersama. Kepolisian yang berada di daerah asal pengiriman, seperti Jawa, termasuk Lombok, Sulawesi Utara, dan Lampung, harus ikut aktif mengawasi pengiriman calon tenaga kerja Indonesia. Begitu juga daerah transit atau daerah-daerah yang dilalui korban trafficking, seperti Surabaya, Jakarta, Bali, Batam, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, pengawasannya sudah selayaknya diperketat.

Semua ini menjadi bukti kuat bahwa perdagangan manusia tidak bisa dibiarkan lagi. Harus ada upaya kuat untuk memeranginya. Apalagi kasus-kasus yang terungkap ke permukaan bukanlah menunjukkan angka sebenarnya, melainkan hanya perkiraan.

Deputi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Bidang Pemberdayaan Perempuan Dra Maswita Djaja MSc menyatakan, kasus trafficking seperti fenomena gunung es.

“Yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya. Kita tidak tahu sudah berapa banyak kasus trafficking yang lolos dari pengawasan aparat penegak hukum. Atas dasar itulah pemerintah punya komitmen untuk memeranginya, di mana kampanye memerangi trafficking ini kita mulai dari Batam,” ujarnya.

Wali Kota Batam Nyat Kadir yang hadir dalam konferensi menyatakan membuka diri dan mau bekerja sama dengan LSM dan provinsi daerah lain untuk memerangi trafficking. Meski orang-orang yang menjadi korban trafficking bukanlah penduduk Batam, Pemerintah Kota Batam siap membantu dan bekerja sama memeranginya.

Apalagi di Batam sudah ada ruang penanganan khusus remaja, anak, dan wanita korban trafficking yang dibentuk Kepolisian Kota Besar Barelang yang didukung LSM.

Yayasan Perlindungan Anak Batam juga telah menyediakan tenaga dan waktu untuk merehabilitasi anak-anak korban kekerasan dan trafficking.

Ayo, mari perangi perdagangan manusia sekarang juga!

sumber: kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: