Hari Perempuan Sedunia : Refleksi Kaum Perempuan Aceh

Reporter : Oleh: Nova Rahayu Yusuf *

AcehKita – 8 MARET merupakan bulan bersejarah bagi kaum perempuan di berbagai penjuru dunia. Seluruh kelompok perempuan yang berasal dari kaum buruh, petani, profesional memperingati hari tersebut dengan penuh makna dan harapan akan penempatan posisi kehidupan perempuan ke arah yang lebih bermartabat. Betapa tidak, Maret telah menggores sejarah kebangkitan perlawanan perempuan atas tindakan semena-mena dan diskriminasi yang dialami perempuan di seluruh negeri.

Perjuangan perempuan atas persamaan hak-hak sipil dan politik sudah dimulai sejak awal abad ke-19 di beberapa negara Amerika dan Eropa. Dan pertama kali hari perempuan sedunia diperingati pada tanggal 11 Maret 1911, yang diperingati di sejumlah negara seperti Jerman, Australia, Denmark dan beberapa negara Eropa lainnya. Peringatan ini setelah keluarnya Deklarasi Copenhagen yang menyerukan persatuan kaum perempuan sedunia untuk memperjuangkan persamaan hak perempuan dan anak-anak, untuk pembebasan nasional dan perdamaian. Sejumlah perempuan saat itu bekerja pada pabrik tekstil dan industri rumah tangga. Momentum memperingati hari tersebut terus diperingati tahun demi tahun.

Namun peristiwa peringatan yang paling dikenang sepanjang sejarah Hari Perempuan adalah yang dilakukan di Petrograd, Uni Soviet (sekarang St Petersburg, Rusia), yang mencapai puncaknya tanggal 23 Februari –menurut kalender Julian—atau 8 Maret (kalender Gregorian/Masehi). Maka sejak saat itu, hari perempuan sedunia diperingati pada tanggal tersebut.

Kondisi perempuan di Rusia tidak jauh berbeda dengan kondisi perempuan di negara-negara Eropa, mayoritas perempuan di Rusia juga bekerja pada pabrik-pabrik. Pada saat itu lebih dari sejuta perempuan dan laki-laki menuntut persamaan hak-hak sipil dan politik, penghapusan diskriminasi, perlakuan kerja yang lebih baik dan gaji yang layak.

Ulah para pemilik pabrik saat itu untuk menghadang keinginan perempuan untuk turun kejalan dengan cara mengurung mereka di pabrik-pabrik tidak mamatahkan semangat yang besar untuk mencapai perubahan kondisi kehidupan perempuan yang lebih baik. Mogok kerja dan aksi protes kaum perempuan selama beberapa hari telah menjatuhkan rezim Tsar sebagai sang penguasa yang sangat tidak menghargai perempuan sekaligus mengantarkan Rusia menuju masa transisi zaman feodal menjadi industri.

Melihat realita sekarang, berbagai sudut kehidupan sosial ekonomi dan politik setidaknya telah memberi sedikit ruang bagi perempuan untuk dapat berkecimpung lebih jauh. Meskipun tidak dapat dipungkiri masih banyak pandangan dan pendapat yang memojokkan perempuan seperti penafsiran sekelompok orang dari sudut pandang Islam yang mengatakan bahwa memang sudah selayaknya perempuan berkedudukan di bawah laki-laki karena dia diciptakan dari tulang rusuk si lelaki. Padahal Al Quran tidak pernah menyebut perempuan diciptakan dari rusuk Adam. Bahkan Al Quran dengan tegas menyebut perempuan dan laki-laki diciptakan dari sumber yang sama. Namun di kalangan perempuan sendiri tidak jarang pula ada yang melihat bahwa tersungkurnya perempuan ke kelas kedua adalah karena mitos yang ditanamkan oleh laki-laki untuk kepentingan mempertahankan kekuasaan.

Anggapan yang keliru tentang akar permasalahan ketertindasan perempuan ini akan berpengaruh terhadap cara penyelesaian persoalan perempuan itu sendiri. Menurut penemuan ahli antropologi, pada kehidupan masyarakat komunal primitif yang notabene-nya hidup berburu dan berpindah-pindah kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sama.

Berbagai bentuk tindakan semena-mena dan pendapat miring terhadap perempuan tidak terjadi dengan serta merta. Proses dialektika kehidupan sosial manusia selama ratusan bahkan ribuan tahun telah membuat peminggiran peran perempuan sebagai kelompok kerja produktif menjadi kelompok kerja domestik. Ekses dari peminggiran perempuan ini berdampak pada hampir semua sudut kehidupan sosial perempuan seperti tindakan ekspoitasi dan kekerasan terhadap mereka. Dan yang paling berbahaya adalah ketika tindakan tersebut sudah dianggap dan dipahami sebagai fenomena sosial oleh masyarakat sehingga menimbulkan sikap permbiaran atau persetujuan halus atas tindakan tersebut.

Bagaimana dengan perempuan Aceh?

Dalam kontek sejarah kehidupan sosial, perempuan Aceh menunjukkan peran sudah memasuki posisi penting dengan menduduki level otoritas kekuasan. Tidak ada yang meragukan kemampuan perempuan Aceh untuk merancang strategi dan memimpin pasukan perang di daratan dan di laut dalam melawan penjajah kolonial Belanda. Islam sebagai agama yang dianut masyarakat Aceh saat itu tidak dipahami secara parsial dengan melarang perempuan untuk memimpin. Karena memang dalam sejarah lahirnya Islam itu sendiri telah menunjukkan bahwa penyebaran Islam tidak dilakukan dengan kekerasan, pengekangan, apalagi pemaksaan. Namun Islam menyapa umatnya dengan sosialisasi dan penyadaran.

Situasi berbalik ketika Aceh memutuskan untuk bergabung dengan negara kesatuan Republik Indonesia khususnya saat rezim Orde Baru berkuasa. Posisi perempuan Indonesia yang terlibat aktif bersama kelompok pemuda lainnya dalam usaha pemerdekaan Indonesia dari penjajah berubah drastis menjadi kelompok kerja domestik dan sasaran ekspoitasi, kekerasan dan perdagangan.

Dengan penerapan sistem pemerintahan dan ekonomi sentralistik dari Jakarta, tentunya hal ini juga berpengaruh ke seluruh provinsi kesatuan Indonesia, termasuk Aceh. Ekses dari sistem sentralistik ternyata telah melahirkan berbagai kesenjangan dan ketidakadilan yang mungkin dirasakan atau disadari oleh sebagian rakyat Aceh yang berstatus sebagai salah satu daerah penghasil sumber daya alam.

Pada perjalanannya hal ini melahirkan protes yang berwujud lahirnya pemberontakan seperti DI/TII dan GAM. Ini kemudian direspon pemerintah dengan mengirimkan tentara untuk melakukan berbagai operasi militer dalam penumpasan GAM, tindakan ini kemudian telah membawa Aceh menjadi daerah konflik bersenjata berkepanjangan.

Tentu saja konsekuensi konflik melahirkan banyak korban dan ekses, namun meminjam data sejumlah LSM menunjukkan bahwa masyarakat sipil adalah kelompok paling besar menjadi korban. Lebih spesifik korban yang paling menderita dalam konflik adalah perempuan dan anak-anak. Singkatnya dalam situasi normal saja perempuan dapat mengalami berbagai bentuk kekerasan dan eskploitasi apalagi dalam kondisi konflik dan perang.

Perempuan adalah kelompok paling rentan dalam situasi konflik karena sering menjadi sasaran kelompok bertikai dalam melampiaskan kekesalan dan kemarahan. Tindakan tersebut meliputi kekerasan fisik, mental, seksual, eksploitasi, penculikan, sebagai tameng yang pada akhirnya melahirkan rasa trauma. Di samping itu ketika para laki-laki (apakah sipil atau anggota kelompok GAM) memilih meninggalkan perempuan, istri dan anaknya untuk menyelamatkan diri ke tempat yang, meninggal atau hilang, maka perempuan menjadi kelompok penyelamat kehidupan keluarga dengan fungsi sebagai kepala rumah tangga sekaligus menjadi ibu bagi anak-anaknya.

Meskipun tidak begitu manifes kekerasan dalam rumah tangga telah menambah deretan panjang kekerasan perempuan di Aceh. Hancurnya infrastruktur fisik sosial dan ekonomi selama konflik telah berdampak pada menurunnya tingkat pendapatan masyarakat dan sebaliknya menambah deretan angka kemiskinan. Laki-laki yang biasanya bekerja disawah, kebun, tambak tidak bisa lagi leluasa untuk bekerja. Bagi mereka yang memilih tinggal di rumah untuk menghindari peluru nyasar atau salah tangkap, lambat laun menjadi stres. Akibatnya, akan terjadi pelampiasan kemarahan kepada perempuan di rumah. Apalagi, banyaknya aturan budaya dan adat yang mengekang serta harus dipatuhi oleh perempuan.

Di balik musibah ada makna. Gempa dan tsunami ternyata tidak semata-mata menyisakan tangis dan kesedihan, tapi juga sudah menggerakkan hati pihak yang bertikai untuk berdamai dengan penandatanganan MoU antara RI dan GAM. Kejadian ini disambut dengan suka cita oleh seluruh komponen masyarakat Aceh untuk dapat menikmati secuil kehidupan yang damai.

Menurut pemantauan World Bank, tindakan kekerasan, pembunuhan, penculikan, dan kejadian memprihatinkan lainnya selama konflik, menurun drastis sejak terjadinya kesepakatan damai. Ini merupakan awal yang baik untuk membangun kembali Aceh secara bersama.

Apa yang harus dilakukan?

Kita sungguh berharap bahwa dalam kondisi damai sekarang perempuan tidak lagi menjadi objek kekerasan dan eksploitasi. Menghancurkan sisa-sisa feodalisme di lapangan budaya adalah wajib untuk menghilangkan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dikokohkan melalui budaya patriarkhi. Di samping itu, konflik juga sudah menunjukkan kekerasan tidak bisa dilawan dengan kekerasan karena akan melahirkan masalah baru. Untuk itu, praktik-praktik militerisme harus dihilangkan dan diganti dengan cara-cara yang damai dan humanis.

Untuk itu maka kaum perempuan harus bersatu dengan membentuk suatu komunitas-komunitas perempuan yang berguna sebagi tempat berbagi informasi dan mencari solusi atas berbagai masalah perempuan. Komunitas ini juga berguna sebagai alat proteksi diri kaum perempuan dan alat untuk menjaga perdamaian. Perempuan sebagai salah satu komponen masyarakat harus dapat menjaga dan mengisi perdamaian, karena perdamaian akan meminimalisir praktik-praktik kekerasan.

Namun harus menjadi catatan penting agar komunitas perempuan ini tidak menjadi eksklusif tetapi sebaliknya membuka diri dengan komunitas-komunitas yang lain seperti komunitas laki-laki. Kaum Laki-laki menjadi penting untuk disadarkan dan memahami masalah perempuan agar mereka dapat terlibat mewujudkan usaha pembebasan perempuan.

Mengutip kata-kata Shulamith Koenig—penerima penghargaan PBB untuk prestasi luar biasa di bidang HAM. “Kaum perempuan dan laki-laki sudah saatnya membangun sebuah budaya politik baru yang didasarkan pada prinsip-prinsip Hak Azasi Manusia secara luas”. Selamat hari perempuan! [dzie]

*) Pemerhati masalah sosial dan perempuan di Aceh.

sumber: acehkita 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: