Zaman Susah, Perdagangan Wanita Makin Mewabah

praktik ilegalBERBEKAL uang Rp 25.000, Ni (23), warga Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, nekat ke Malaysia. Ni yang hanya sekolah hingga kelas II SMP yakin orang yang merekrutnya, Dewi Mayangsari dan Hari Ray Sansaya, akan mempekerjakannya di Rumah Makan Sangrilla, Malaysia.

NAMUN, setelah menginjakkan kaki di negara jiran itu, betapa kagetnya Ni. Sebab, ternyata dia dijadikan pekerja seks komersial (PSK). Di bawah ancaman sindikat perdagangan perempuan Asia, Ni bersama tiga rekannya memutuskan melarikan diri.

“Empat hari empat malam kami berempat mencuri-curi waktu menggergaji terali besi agar bisa keluar dari rumah penampungan,” kata Ni, salah satu perempuan dari empat perempuan asal Kalimantan Selatan (Kalsel) yang melarikan diri dari rumah penyekapan di Johor Bahru.

Terali besi kokoh bisa dipatahkan dengan gergaji besi yang kebetulan mereka temukan di rumah itu.

Ni, Ev, Bet, dan De yang kesemuanya berumur di bawah 25 tahun malam itu, pada pekan kedua Juni 2004, berhasil menerobos pagar rumah.

“Kami cari taksi lari ke pelabuhan Johor Bahru,” kata Ni. Pelarian itu bermodalkan bekal uang Bet yang masih tersisa Rp 500.000.

De ternyata masih menyimpan handphone. Karena itu, ketika mereka kabur, keluarga di Kalsel sudah diberi tahu melalui pesan singkat (SMS). Biasanya handphone yang dibawa akan disita Hari, tetapi De menyembunyikannya dan masih ada sisa pulsa untuk SMS.

Sampai di pelabuhan sudah larut malam. “Akhirnya kami menginap di losmen, sewanya 50 ringgit,” kata Ni.

Paginya mereka bertolak ke Batam. Sesampai di sana mereka dibantu petugas imigrasi bernama Irin.

“Irin ini yang membantu kami menginap di salah satu rumah orangtuanya yang kosong. Di rumah itu kami baru bisa menelepon orangtua. Selama di rumah bordil kami tidak boleh menelepon. Saya mengontak ibu saya minta dikirimi uang untuk pulang,” kata Ni.

Dar (40), ibu Ni di Banjarbaru, yang hanya seorang pembantu rumah tangga gembira mendengar kabar dari anaknya, sekaligus bingung karena dimintai uang. Sebelumnya, Dar kalang kabut mencari keberadaan anaknya. Alamat yang diberi Dewi dan Hari ternyata palsu.

“Saya bingung karena tidak punya uang,” kata Dar. Terpaksa Yul (45), suami Dar, mencari utangan ke sana-kemari. “Dapat utangan Rp 1 juta, tetapi pesannya harus dikembalikan dalam waktu 15 hari,” katanya.

Setelah masing-masing mendapat kiriman uang dari Kalsel, mereka menggunakan pesawat Mandala dari Batam ke Jakarta, baru kemudian ke Banjarmasin. “Tanggal 15 Juni saya sampai di Banjarmasin,” kata Ni.

SELAIN empat tenaga kerja wanita (TKW) yang melarikan diri, akhir Mei 2004 sebelumnya diam-diam seorang TKW yang lebih dulu dikirim ke Johor Bahru kabur. “Saya pulang saat mereka (rombongan Ni-Red) sampai di Malaysia,” kata An (21).

Ni mengatakan, An bisa pulang karena “ditukar” dengan rombongannya. “Saya tidak kenal An karena dia langsung pulang dan tidak bercerita sesuatu kepada kami yang baru datang,” katanya.

An yang merasa tidak mendapat pekerjaan sesuai dengan yang dijanjikan memaksa majikannya agar dia dipulangkan. Majikan mengizinkannya dengan janji tidak boleh memberitahukan apa yang dialaminya.

An kini kembali bekerja pada sebuah salon di Banjarmasin. Saat ditemui di tempat kerjanya, An mengatakan, selama sepekan di rumah bordil hanya mampu bekerja dua hari. “Itu pun hanya duduk-duduk, tidak mau di-booking,” kata An.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengelabui penjaga agar tidak disuruh melayani tamu. Ia sering beralasan sedang haid dengan menunjukkan pembalut yang diolesi obat merah atau bahkan diolesi tetesan darah dari lidah yang digigit.

Kelima perempuan itu adalah korban perekrutan yang dilakukan calo kakak-beradik Dewi dan Hari. Kedua calo itu ditangkap polisi sebelum kelima korban melarikan diri.

Dewi dan Hari ditangkap Kepolisian Sektor (Polsek) Banjarmasin Tengah di Bandara Syamsudin Noor, 10 Juni lalu. Mereka ditangkap saat akan mengirim dua TKW ke tujuan yang sama dengan Ni dan kawan-kawan.

Di hadapan polisi, kedua calo ini mengaku sengaja mengirim perempuan ke Malaysia untuk dipekerjakan sebagai PSK. Mereka juga mengakui, merekrut TKW tanpa memiliki surat izin.

Jaringan itu beroperasi dengan mengandalkan kelihaian membuat paspor secara singkat dan mengelabui petugas imigrasi di perbatasan. Suami Dewi adalah petugas imigrasi di Banjarmasin.

Setiap perempuan yang diberangkatkan harus membayar Rp 4 juta, yang bisa dibayar empat bulan ketika sudah bekerja di Malaysia. Biaya pengiriman per orang Rp 2,2 juta. Jadi, keuntungan calo dari korban Rp 1,8 juta per orang. Keuntungan itu di luar bayaran dari bos di Malaysia.

Polsek Banjarmasin Tengah akhirnya memanggil keempat TKW yang melarikan diri itu. Hasil pemeriksaan sungguh mengagetkan, sindikat perdagangan perempuan itu tidak hanya melibatkan Indonesia dan Malaysia saja.

“Mereka dikumpulkan bersama perempuan lainnya dari berbagai negara Asia,” kata Inspektur Satu Iman Setiawan, Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Banjarmasin Tengah.

Dari pengakuan korban, setidaknya ada tujuh negara yang terlibat sindikat. Selain Indonesia dan Malaysia juga China, Filipina, Thailand, Myanmar, dan India.

Mereka dipekerjakan di sebuah rumah bordil di kawasan kumuh Johor Bahru. Para korban tak ingat alamat rumah bordil itu. Tetapi, salah seorang korban menyebut mereka dipekerjakan di Kedai 99.

Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Kalsel Brigadir Jenderal (Pol) Dody Sumantyawan HS menyatakan, kasus tersebut merupakan yang pertama kali terungkap di Kalsel menyangkut perdagangan manusia (trafficking). “Ini termasuk trafficking yang merupakan kejahatan transnasional,” katanya.

Gegap gempita kepolisian mengungkap kasus itu kontras dengan dinginnya respons pemerintah. Belum ada reaksi pemerintah provinsi ataupun kota menyangkut TKW yang kabur maupun yang masih terdampar di Malaysia.

Hingga kini sekurangnya masih ada dua TKW asal Kalsel yang masih di rumah bordil Malaysia itu. Mereka adalah Des dan Ag. Tak satu pun dinas yang tergerak terhadap nasib kedua perempuan itu.

>small 2small 0

Sesampai di Malaysia mereka diserahkan kepada bos yang disebut Bos Apai. “Bos Apai dengan istrinya menyuruh kami membeli pakaian seksi, sepatu, dan parfum yang total harganya 335 ringgit Malaysia,” katanya.

Semua keperluan peralatan itu harus mereka tanggung sendiri. “Kami langsung dinyatakan punya tambahan utang 335 ringgit dari sebelumnya 3.500 ringgit. Jadi, total utang kami katanya 3.835 ringgit,” kata Ni menceritakan.

Sepasang sepatu putih berhak tinggi dan sebotol parfum kini menjadi saksi bisu. Dua jenis barang itu yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh merantau dari negeri jiran.

Ni sebelumnya bekerja di rumah makan di Banjarbaru dengan upah Rp 250.000 per bulan. Misi Ni ke Malaysia selain mencari uang untuk menyekolahkan anak perempuannya, Ir (4), juga bercita-cita mengabulkan permintaan Ir yang ingin memiliki sepeda yang bisa dibawanya ke sekolah.

Keberangkatan Ni ke Malaysia juga diharapkan bisa membelikan rumah seadanya. Hingga kini keluarga Ni belum memiliki rumah, mereka hanya menjaga rumah kosong milik orang lain. “Rumah ini sebentar lagi mau dijual. Kami tidak tahu di mana nanti tinggal,” kata Dar, ibu Ni.

Saat Kompas mengunjungi rumah Ni, sang balita Ir masih merengek-rengek minta dibelikan sepeda. “Sepedanya nang ganal (yang besar-Red) itu, yang bisa dibawa sekolah,” kata Ir ketika ditanya tentang keinginannya punya sepeda. (Amir Sodikin)

sumber: kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: