Lara Tak Pernah Bisa Lunasi Hutangnya

PINANG, PM : Walau masih merasa mengalami luka yang sangat mendalam dan tak bisa diobati, namun Lara (Bukan nama sebenarnya), sudah dapat bernafas lega. Lara adalah korban perdagangan wanita yang terpaksa harus merelakan tubuhnya dijamah oleh pria hidung belang atas hutangnya-hutangnya yang sudah terlampau banyak dan tak bisa dibayar kalau hanya bekerja sebagai pelayan kafe.
Dijumpai di Sat Reskrim Polresta Tanjungpinang, Minggu (18/12) kemarin, wanita berambut sebahu ini tampak tersenyum. Wajahnya mulai terlihat cerah dari pada malam sebelumnya.
Saat dirinya mendatangi Mapolresta Tanjungpinang, kepada wartawan koran ini, wanita kelahiran Semarang tersebut menuturkan kisah pilu yang sangat tragis. Ia terpaksa harus dijalaninya karena hutang-hutangnya yang tak pernah kunjung diketahui kapan akan tertutupi.
Sekitar Bulan September 2005 lalu, Lara terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib ke Tanjungpinang. Anak semata wayangnya kini bersama suaminya ia tinggalkan di Semarang. Lara (23) pergi meninggalkan kampung halamannya karena ingin memperbaiki perekonomian keluarganya.
Terlebih-lebih salah seorang wanita kenalannya yang belakangan diketahui bernama SRI menjanjikan akan memperkerjakannya di sebuah kafe di Tanjungpinang dengan penghasilan yang cukup besar.
Tergiur dengan janji-janji manis tersebut, ibu satu orang anak ini tak berpikir panjang lagi dan langsung menerima tawaran Sri.
Mulai bulan September itulah Lara bekerja di kafe Santai Baru, Bintan Plaza Tanjungpinang sebagai pelayan. Tugas Lara di kafe tersebut bukan hanya melayani tamu untuk minum-minum dan menuangkan minuman ke dalam gelas. Tetapi juga melayani tamu yang menginginkan tubuhnya.
Dalam hati kecil Lara sebetulnya berontak. Namun, karena hutang-hutangnya yang makin banyak, membuat wanita ini tak ada pilihan lagi.
“Di Pinang saya di serahkan pada bu Rini oleh Bu Sri. Dari Bu Rini-lah saya tahu kalau saya punya hutang Rp 1,8 juta untuk ongkos perjalanan saya ke Tanjungpinang dari Semarang. Itu harus saya bayar,” ujar wanita ini, lirih.
Lara mengaku tak mengetahui di mana lagi keberadaan Sri. Diketahuinya, begitu menyerahkan dirinya pada Rini, wanita ini kemudian menghilang. Selama di Tanjungpinang, Lara tinggal di rumah Rini di Jalan Gatot Subroto Km 5 bawah. Di rumah itulah Lara terkadang harus melayani para pria hidung belang yang menginginkan tubuhnya walau hanya semalam.
Lara juga mengaku, dalam setiap kali kencan, dia menerima uang Rp200 ribu. Dan uang tersebut harus diserahkan pada Rini sebesar Rp 50 ribu untuk sewa kamar.
“Kalau di kafe saya diboking, saya tak tahu dapat uang berapa. Karena saya tak pernah terima uangnya. Dan uang itu langsung diserahkan kepada Rini. Saya hanya terima tips saja dari tamu,” tambah wanita ini serius.
Lara mengaku semua dilakukan atas perintah Rini. Dirinya tak kuasa untuk menolak. Hal itu mengingat hutangnya yang terbilang cukup banyak. Karena tak juga terlunasi, Rini kemudian menyarankan Lara untuk berangkat ke Singapura dan bekerja sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK) di negeri tersebut.
Sekali lagi tak ada pilihan lagi buat Lara kecuali hanya menurut saja. Apalagi semua paspor dan segala kebutuhan administasi ditanggung Rini. Hingga terhitung sudah dua kali Lara keluar masuk Tanjungpinang-Singapura.
Wanita ini mengaku harus menyerahkan uang hasil kerjanya sebagai PSK pada Rini untuk membayar semua hutang-hutangnya yang jumlahnya Lara sendiri mengaku tidak ingat secara persis. Kini, Lara di tampung di sebuah Yayasan Sosial di Tanjungpinang. Lara mengaku ingin kembali pulang ke kampung halamannya dan berkumpul lagi dengan keluarganya.(oni/pmbintan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: