Perjalanan Terlama

Entah mengapa, kejadian sebulan lalu itu masih mengendap di otakku. Padahal setiap hari kujejali lagunya Dewa (yang katanya penuh misi mendekatkan diri kepada Tuhan), atau lagunya Milli Vanilli (biar badan sedikit berjingkrak). Bukannya plong, malah semakin mengendap, aku takut mengerak.
Lalu kutuliskan saja untuk semua yang mau membaca:

Jam 17.00 WIB pekerjaanku kelar, ku bergegas mengenakan jaket. Bukan kedinginan di ruangan ber-AC yang hidup 24 jam. Tetapi dari lantai 8 gedung tempatku bekerja di Batam Center, cuaca lagi ngambek. Pemandangan dua hari lalu masih sama. Kaca belakang kursiku buram, karena hujan. Bayanganku kemana-mana, terutama Ilalangku (buah cintaku dengan Rini) yang maunya menangis ketika dua hari lalu aku berangkat.

Keluar pakir, langsung kupacu motorku. Ah, hujan kapan berhenti. Simpang Masjid Raya Batam Center kulewati. Hingga Simpang Franki dan Simpang Kabil, masih aman. Namun firasatku mengatakan, jalanan pasti macet. Toh bukan hanya sekali saja macet di Batam. Sejak pengusaha peoperti sibuk mencari lahan untuk perumahan, hutan pun tinggal beberapa petak. (Aku jadi ngeri, kalau dibiarkan apakah nanti cucuku bisa mendapatkan cerita kejayaan Batam sebagai pintu gerbang Indonesia -seperti kata Pak SBY yang datang ke Batam tanggal 6 Februari kemarin-, karena Batam sudah tak ada lagi di Peta. Tenggelam, sih). Lampu merah menyala, sejenak kutarik nafasku yang sumpek. Kepala kubalut helm, tubuh juga tertutup mantel yang selalu disiapkan istriku.

Perjalanan masih lancar, 5 menit dari kantro sudah sampai Simpang Kabil. Urusan jadi lain ketika mendekati SPBU Pandanwangi. Lah, kok banyak kendaraan teronggok di tepi jalan. Bahkan jalur yang seharusnya dipergunakan untuk pengguna jalan dari Simpang Kabil ke Mukakuning dipakai untuk jalur sebaliknya. Ya ruwet, semrawut berat!

Tak perlu aku bertanya. Ruas jalan di depanku, kira-kira sepanjang 20 meter tergenang air. Ketinggian airnya tak seperti hari-hari sebelumnya. Agaknya Dam Duriangkang yang ada di sebelah kiri jelan, terhalang rerimbunan, muntah. Tak kuat lagi mengisi limpahan air hujan yang malas berhenti. Kuhentikan motor, tetapi mesin tetap hidup. Aku harus pulang, sinyal HP istriku ngadat, tak bisa kuhubungi. Di atas roda aku resah.

Lima menit aku termangu. Jika saja tak ada Dam Duriangkang, pasti sudah sampai di rumah. Soalnya jalan yang kulewati memang mengitari dam terbesar di Batam itu. Bismillah…. gas di tangan kutarik keras. Air menelan kulit luat ban depan motor. Lalu sepatuku basah, lalu mesin terdengar pelan karena lobang knalpot terpercik air. Hanya gas di tangan kubesarkan lalu kubuat stabil. Hanya aku yang nekad. Pikiranku hanya satu, my home, my son and my wife. Aku pasrah, kalaulah mati biarkan saja. Motor kutinggal dekat bangunan terdekat.

Tepi air tinggal sejengkal lagi, dan Alhamdulillah. Tuhan Maha Besar, menyayangi umat-Nya meski kadang sang umat lupa menyebut-Nya. (Hanya untuk menyebut kita terlupa, bukan?).

Otomatis jalan di depan lengang. Agak berkurang penat kepalaku. GOR Temeggung Abdu Jamal kulewati. Ada genangan air juga, tetapi tak separah Pandanwangi. Aku masih sempat beryanyi kecil. Sekadar menghilangkan gundah di hati. Masya Allah, air menghadang lagi. Kali ini simpang Panbil nyaris tak kelihatan sosok aslinya. Hanya halte yang menandakan itu depan pusat perbelanjaan yang tak pernah sepi. Bukan cuma membuat nafasku lebih lama kutahan. Genangan airnya lebih parah.

100 meter sebelum simpang, jalan sudah tergenang. Lalu ke arah Simpang Dam tak kulihat kendaraan bergerak. Sudah cukup untuk memberikan keyakinan ruas itu juga terendam cukup tinggi.

Keberhasilan pertamaku rupanya membuatku ketagihan. Kusebut nama Tuhan, lalu dengan cara yang sama kulalui air yang bergelombang ketika roda depan motorku menerjangnya. Tiba persis di persimpangan aku justru bingsung. Ada sekitar 6 pemilik sepeda motor yang saling lihat di bawah rintik hujan. Ada yang dari arah Batuaji atau searahku tadi. Mereka juga nekad. Kayaknya mereka punya sesuatu di rumah yang sama denganku, mungkin istri atau anak? Ah…. Mesin motor yang biasanya diservis sekali sebulan tak terpikir lagi.

Kalau mati, matilah, pikirku. Untuk kali ketiga, aku yakin Tuhan menyayangiku. Nekad aku belok kiri, menerjang air yang menutupi knalpotku hingga Pintu II Batamindo. Ya Tuhan, Engkaulah segalanya, raja segala raja, raja segala manusia.

Perjalanan kembali kulanjutkan. Hujan mengingatkanku pada-Nya. Air tak lagi kupikirkan. Tiga kali sudah aku memiliki bukti, hanya Dia yang bisa memberi selamat, hidup, kenyamanan dan segalanya. Pintu III, PIntu IV dan PIntu V Batamindo kutinggalkan.

Di bawah calon perumahan Bukit Kemuning, aku baru terjebak. Ada tanah longsor terbawa derasnya air. Jalan macet total. Tak ada jalan lain, kuputar motor lalu belik kanan mendaki bukit. Asalkan ada celah lapang, kulewati. Ada tiga pengendara yang nekad sepertiku. Pikiranku sederhana, rumahku sebenarnya dari jalan bisa lurus lalu simpang pertama di depan belok kanan, sampai. Kalau aku belok kanan dari jalan yang longsor, mendaki bukit, lalu belok kiri berarti lurus dengan jalan raya. Lagipula di atas ada perumahan dengan aspal yang cantik. Skenarioku, aku masuk lewat Bidaayu atas.

Rasanya menjadi pembalap. Untungnya bensin tadi kuisi full. Di ujung bukit, ada papan kecil yang menjembatani perjalananku dengan orang-orang tercinta. Rasanya bersalah juga ketika seorang pemuda yang kehujanan tak mendapatkan uang dariku karena merasa telah membantu memperlancar perjalananku dengan papan tadi. Bukan pelit, duit di kantongku tinggal Rp50 ribu. Recehan, tak ada.

Perjalanan terlama akhirnya usai. Meski ruang tamuku basah, karpet berwarna lebih tua karena air, aku gembira. Kupeluk Ilalang yang sedang tidur.

“Dia tadi takut dengar beledek (guntur – Jawa), Yah,” bisik istriku.

Kaulah penguasa alam, langit dan bumi sujud pda-Mu

Kau yang maha memberi, segala nikmat kepada kami

Kau yang maha melihat atas sgala perbuatan kami

Kau yang maha mendengar doa dan keluh kesah kami

Kulah yang maha suci, ampuni sombong dan khilaf kami…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: