Bayi Kepri Dijual untuk Diambil Organnya

Anak-anak korban trafficking di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang dibawa keluar negeri bukan lagi diadopsi, akan tetapi untuk diambil organ tubuhnya, dan modus kejahatan ini cukup meresahkan Pemerintah Provinsi Kepri.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Kepri Ny. Hj Aida Zulaikha Ismeth ketika ditemui ANTARA di Batam, Selasa, mengatakan, kejahatan trafficking anak dan perempuan di provinsi tersebut berada dalam nomor urut pertama di tanah air.

Menurut dia, wilayah Provinsi Kepri berbatasan langsung dengan negara tetangga dan kejahatan perdagangan anak dan perempuan itu biasanya dilakukan untuk kegiatan adopsi ilegal bagi bayi atau anak-anak dan kegiatan prostitusi bagi perempuan. “Kini ada modus baru, anak-anak itu dijual bukan untuk dipungut (adopsi) akan tetapi untuk diambil organ tubuhnya,” ujar Aida perihal maraknya kejahatan perdagangan anak dan perempuan di daerahnya.

Ia menjelaskan, kasus trafficking di Indonesia berdasarkan data, berada di urutan nomor dua di dunia dan di Kepri, adalah yang pertama di tanah air akibat letak wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Singapura. Menurut dia, kejahatan kemanusiaan itu selama ini sangat leluasa terjadi di Kepri karena begitu terbukanya daerah ini dan pelaku yang tidak dapat ditindak tegas oleh hukum.

Diakuinya, untuk mencegah trafficking tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan kesigapan aparat keamanan atau penjagaan lintas batas.”Kaum perempuan di Kepri ini jumlahnya lebih 50 persen dari jumlah penduduk Kepri, namun sayangnya mereka tidak memiliki keahlian dan ketrampilan sehingga mudah tertipu dan jadi korban trafficking,” kata istri Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah ini.

Aida yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengatakan, untuk mencegah trafficking tidak cukup hanya dengan merazia kaum perempuan di tempat-tempat hiburan dan menangkap mereka, sebab kegiatan tersebut tanpa ada pemberdayaan akan percuma saja. Menurut dia, kaum perempuan mesti diberdayakan agar punya keahlian skill dan menyadarkan mereka bahwa pekerjaan yang digelutinya sangat merugikan mereka.

“Di Batam saya telah bangun Centre Trafficking yang dikoordinir Kesatuan Istri Karyawan Otorita Batam. Organisasi serupa juga ada di Karimun,” katanya. Ia menambahkan, kegiatan pemberdayaan itu dapat terjalin baik apabila berkoordinasi dengan semua unsur yang ada untuk melakukan pembinaan baik dari pemerintah, masyarakat maupun pengusaha.

“Saya sebenarnya menginginkan di pemerintahan provinsi hingga kabupaten/kota ada kantor pemberdayaan perempuan karena masalah perempuan tidak bisa ditolerir lagi,” tutur ibu empat anak itu. Sebab, lanjut dia, banyak masalah-masalah perempuan yang harus diselesaikan seperti kekerasan dalam rumah tangga dan perdagangan anak.

Ketika disinggung kerjasama dengan negara lain untuk mencegah trafficking, Aida mengakui pihaknya telah merintis kerjasama tersebut baik dengan Singapura maupun Amerika.Ia mengakui, berdekatannya wilayah Kepri – Singapura menjadi dilema bagi dirinya karena satu sisi menguntungkan tetapi disisi lain membuatnya miris.

“Saya sedih, banyak ‘apek-apek’ (lelaki tua-red) dari Singapura mengatakan bahwa di Kepri ini enak, main golf murah, belanja murah dan perempuan lebih murah lagi,” ujar Aida perihal prostitusi yang juga menjadi perhatiannya untuk dibasmi.

sumber: republika

One Response to Bayi Kepri Dijual untuk Diambil Organnya

  1. nana says:

    kayaknya polisi harus tegas, nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: