Aida Zulaika Nasution

Bukan kapak sembarang kapak, kapak membelah kayu.
Bukan Batak sembarang Batak, Batak jadi Melayu….”

SEBAIT pantun karya sastrawan Angkatan Pujangga Baru, Soeman HS (Hasibuan), layak dikaitkan dengan kemenangan Aida Zulaika Nasution SE MM, dalam pencalonan sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Pencalonan perempuan keturunan Batak Mandailing sebagai anggota DPD untuk mewakili masyarakat Melayu di Bumi Segantang Lada kenyataannya didukung luas oleh masyarakat. Perolehan suara perempuan kelahiran Tanah Rencong, Banda Aceh, 1 April 1948, ini terbesar dan mengalahkan 12 pesaingnya.

Kemenangan Aida memang sudah diramalkan banyak pihak. Popularitasnya di tengah warga Kepri tak diragukan lagi. Masyarakat mengenalnya bukan hanya di Batam, tetapi di Riau Kepulauan, seperti Natuna, Kepri, Tanjung Pinang, Karimun, dan Lingga. Bahkan, di kalangan seniman Batam dan Kepri pun, Aida tak asing lagi. Ia mendapat julukan sebagai “emaknya” seniman Riau, seperti yang pernah dituturkan Taufik Ikram Jamil, sastrawan terkemuka di Riau. Julukan itu diperoleh bukan karena ia suka membaca puisi, tetapi juga karena kepedulian dan keberpihakannya dalam pengembangan seni Melayu di Batam dan Riau.

DIKENALNYA Aida, bukanlah semata karena dirinya adalah istri pejabat Ketua Otorita Batam Ismeth Abdullah. Lebih dari itu, puan (perempuan) “Melayu” dari keturunan Batak Mandailing ini memang sudah dikenal kiprahnya dengan berbagai aktivitas yang dibuatnya di Bumi Lancang Kuning.

Aktivitas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) tahun 1976 di Batam ini dimulai pada Oktober 1998, sejak suaminya dipercaya menjadi Ketua Otorita Batam. Ia memulai aktivitasnya dengan menghimpun dan membina istri-istri karyawan Otorita Batam (OB) melalui organisasi Pikori (Perhimpunan Istri Karyawan Otorita Batam) yang beragam etnis dan agama serta berasal dari berbagai daerah di Tanah Air.

“Saya memang tidak membentuk dengan nama Dharma Wanita karena ketika itu Indonesia sudah memasuki era reformasi sehingga ada kebebasan untuk berekspresi,” ujar Aida yang juga alumnus Magister Manajemen UI (1992) itu.

Pemberdayaan istri-istri karyawan OB dimulai dengan mengadakan pengajian rutin bulanan bagi yang beragama Islam yang hingga kini masih terus berlangsung. Kemudian mengadakan ceramah bulanan tentang pembinaan dan membangun keluarga sehat dan sakinah dengan mengundang berbagai penceramah dari Batam atau pun Jakarta.

“Ibu-ibu Pikori saya ajak berdiskusi dan mendengar ceramah agar mengerti peran dan fungsi istri di dalam keluarga. Alhamdulillah, kenyataannya mereka tertarik dan mau meluangkan waktu untuk beraktivitas di masyarakat,” jelas ibu dari empat anak, Rahmatsyah Ramadhani (34), Abdul Haris (30), Fitria Khairani (17), dan almarhum Imran Yasin.

Pembinaan keluarga istri karyawan OB ini diperkuat dengan membentuk Biro Konsultasi Keluarga (2002) yang menggunakan tenaga psikolog Sartono Mukadis Psi sebagai konsultannya. Perkenalannya dengan Sartono tidak lain karena mereka sama-sama sebagai staf pengajar di UI dan sama-sama aktivis mahasiswa pada era 1966. “Biro konsultasi psikologi ini diperuntukkan bukan hanya untuk keluarga OB yang menghadapi masalah dalam keluarga, tetapi masyarakat luar juga dapat memanfaatkannya,” tuturnya kepada Kompas di Batam, Selasa (20/4).

DALAM kaitannya dengan masyarakat luar, Aida bersama Pikorinya, sejak tahun 1999, membina warga melalui koperasi dan pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat pulau (hinterland). Pelatihan kewirausahaan ini ditujukan terutama kepada istri-istri nelayan yang ditinggal suaminya melaut dan anak-anak nelayan yang putus sekolah. Pelatihan kewirausahaan ini dilakukan bekerja sama dengan dunia usaha, seperti PT Bogasari dan Lembaga Pengembangan Bisnis Batam Bhakti Madani.

“Memang apa yang kami perbuat, seperti mengajari ibu-ibu nelayan membuat roti, kue, menjadi bidan pengantin, tidaklah seberapa hasilnya. Tetapi, hal itu sangat membantu keluarga nelayan yang memiliki penghasilan pas-pasan untuk makan,” ujar Aida.

Melalui pembinaan masyarakat hinterland, Aida dikenal oleh masyarakat pulau, seperti Belakang Padang, Setokok, Jaloh, Kasu, Ngenang, dan lain-lain. Ada sebanyak 17 pulau kecil telah dikunjunginya dengan naik sampan atau boat untuk membantu masyarakat pulau yang terbelakang.

Aida pun masih sempat meluangkan waktu mendirikan Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Korban Kekerasan pada tahun 2003 di Batam. Hal itu dilakukannya sebagai bentuk keprihatinan atas banyaknya kasus perempuan Indonesia menjadi korban trafficking (penyelundupan) di Batam.

“Kami membentuknya bekerja sama dengan Poltabes Barelang, Batam. Kami membantu penanganan psikologi yang dihadapi korban trafficking,” jelas Aida yang pernah memperoleh penghargaan Tridharma Adikarya (1999) sebagai Wanita Insan Peduli Sosial oleh Citra Karya Indonesia di Jakarta.

SEBAGAI anak mantan Gubernur Riau pertama, SM Amin (1958), dan pernah bersekolah di SD Negeri 02 Tanjung Pinang, Aida merasakan belum banyak perubahan yang dialami masyarakat pulau selama 40 tahun ini. Kesenjangan dan keterbelakangan pendidikan mereka membuatnya tak bisa berdiam diri.

“Almarhum ayah saya pernah jadi gubernur di Riau. Atok saya (almarhum Muhammad Taif) pun pernah menjadi penilik sekolah (opziner der inlandsche volksscholen, 1918-1926) di Tanjung Pinang. Bagaimanapun jiwa saya terpanggil untuk memberikan sumbangan tenaga dan pikiran seperti yang telah mereka lakukan. Bagi saya yang utama adalah bagaimana meningkatkan dan memeratakan pendidikan bagi masyarakat pulau,” ungkap Aida yang memiliki ibu bernama Cut Maryam (almarhum).

“Saya harus mengakui, aktivitas saya selama hampir tiga tahun dalam memberi ceramah ke berbagai daerah, seperti Natuna, Tanjung Pinang, Kepri, Lingga, dan Karimun, di pengajian-pengajian, majelis taklim, dalam pemberdayaan perempuan, kenyataannya mendapat simpati masyarakat. Saya harus akui kaum ibu dan perempuanlah yang banyak mendukung saya dalam pemilihan sebagai calon anggota DPD,” ujarnya.

Seperti sering ia kemukakan, Aida berjanji akan berupaya meningkatkan mutu dan pemerataan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan perempuan di Kepri. “Pemberdayaan perempuan jadi prioritas utama karena perempuanlah yang jadi tulang punggung dalam meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

sumber: kompas

3 Responses to Aida Zulaika Nasution

  1. Beliau orang besar tetapi berjiwa masyarakat biasa, pantas jika sekarang menjadi DPD.

  2. lsm. dpmpkr says:

    kami juga merupakan bagian dari anak negeri putra-putri melayu asli yang berada dalam suatu wadah Lembaga Swadaya Masyarakat DPMPK dewan peduli masyarakat propinsi kepulauan riau yang menggagas pejuangan propinsi ini bersama bp3kr, jadi mari kita bersama-sama dlm membangun negeri ini, sile kontak kami di web ini

  3. Kami sangat mendukung Ibu Aida Zulaika Boru Nasution ikut dalam pemilihan kepala daerah Provinsi Kepulauan Riau dengan berpasangan dengan Eddy Wijaya sebagai Wakil Gubernur Kepri periode 2010-2015.Semoga kedepan Kepri bisa maju lagi.tertanda : Syahban Siregar (ketua) Sekretaris Roni Sipahutar SH.Dan kami berharap bagas godang di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau dapat segera di bangun dengan sumbangan dari rekan-rekan yang ada khususnya warga batak islam.Adapun Nomor Rekening BCA .3800867508.Semoga warga Batak Islam dapat kiranya menyubangkan sebagian rezeki saudaraku.Terima kasih .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: