BMI jadi Korban Trafficking

Sketsa dan Fakta
I. CATATAN BMI DI BERBAGAI NEGARA

Taiwan
Jumlah BMI di Taiwan saat ini berjumlah 56.437 orang
Upah rata-rata 4 Juta/bulan
Pemotongan upah yang sangat tinggi oleh PJTKI atau Agency
PJTKI tidak memberikan pelatihan dan akomodasi yang memadai
Diperdagangkan antara agency dan dipaksa kawin kontrak

Singapura
Sampai dengan 2005 jumlah BMI Perempuan yang meninggal dunia sudah mencapai 114 orang, 32 orang diantaranya dinyatakan bunuh diri.
Jumlah BMI Perempuan di Singapura saat ini berjumlah 90.000 orang
Januari – Juni 2004 jumlah BMI bermasalah yang tampung oleh KBRI Singapura
sebanyak 500 orang
Upah rata-rata BMI di Singapura 260 Dollar Singapura (Rp. 1.500.000)
Pekerjaan tidak sesuai dengan kontrak kerja
Pemerintah Singapura melakukan praktek-praktek illegal (BMI yang tidak
berdokumen, tidak dideportasi oleh Pemerintah Singapura seperti yang dilakukan
oleh Pemerintah Malaysia)

Korea Selatan
Tanggal 13 Juli 2004 Nota kesepakatan (MOU) ditanda tangani oleh Pemerintah RI
dan Korea Selatan.
BMI memiliki hak yang sama dengan pekerja Lokal (Gaji dan Jaminan social)
Pemotongan upah BMI oleh Agency rata-rata 1 Juta atau 25 % dari gaji BMI yang 4
juta/bulan.
Jumlah BMI saat ini di Korea 14.700 yang berstatus magang, 1.914 bekerja setelah
pasca magang
Diperkirakan jumlah BMI tidak berdokumen sebanyak 8.531 orang

Arab Saudi
Jumlah BMI yang masuk ke Arab Saudi 15.000/bulan
Jumlah BMI di Arab Saudi saat ini diperkirakan berjumlah 650.000 orang dan 40 %
diantaranya tidak berdokumen
Bekerja antara 18 – 22 Jam
Diperdagangkan antara sindikat dan dipaksa bekerja sebagai PSK
Ribuan BMI diperkirakan berada di Penjara-Penjara tanpa proses hukum dan
tidak
mendapat Bantuan Hukum yang semestinya
Sampai bulan April 2004 Jumlah BMI yang di Tampung oleh KBRI Riyadh
berjumlah
400, di Konjen Daman dan Tabuk berjumlah 74 orang
Mayoritas BMI yang ditampung di KBRI dan Konjen RI adalah BMI yang
mengalami
kasus penyiksaan, pelecehan seksual oleh Majikan, bahkan diperkosa oleh
majikan
lebih dari satu kali.

Malaysia
Jumlah BMI yang berada di Malaysia saat ini diperkirakan 1.5 Juta Orang
Mayoritas BMI hanya memiliki visa kunjungan
Diperdagangkan antara sindikat dan dipaksa bekerja sebagai PSK
Jumlah BMI yang ditampung di KBRI Kuala Lumpur dalam setiap 3 bulan 300
orang
dengan rata-rata jenis kasus trafficking, gaji tidak dibayar, penyiksaan,
waktu kerja
yang sangat panjang.

II. CATATAN DEPORTASI BMI DARI BERBAGAI NEGARA
Arab Saudi
Tanggal 8 April 2004 Pukul 13.00 WIB 200 orang BMI dideportasi tiba di
Bandara Sukarno Hatta
Sebelum dipulangkan BMI di Penjara selama 10 hari di Penjara Arab Saudi
Menurut Cacatan imigrasi Riyadh dan Jeddah Arab Saudi, setiap 3 bulan
antara 300
– 400 BMI yang berada di penampungan imigrasi siap untuk di deportasi

Kuwait
Tanggal 12 April 2004, sebanyak 294 BMI di deportasi
Tanggal 23 April 2004, sebanyak 170 BMI di deportasi
Biaya Deportasi ditanggung oleh Pemerintah Kuwait dan setiap BMI diberi
biaya
sebanyak 150 US $ dan 50 Dinar

Timor Leste
1.000 BMI terancam untuk di deportasi
Pada Bulan Oktober 2004 sebanyak 300 BMI di deportasi, 85% diantaranya
sebelumnya bekerja sebagai pelayan hotel dan restoran serta berprofesi
ganda
sebagai PSK.

Malaysia
Kalimantan Barat setiap Bulan menerima BMI Deportasi dari Sarawak
Malaysia rata-
rata 300 – 500 orang
Negara Bagian Kuching & Sarawak setiap tahunnya menangkan dan
mendeportasi
BMI 4.333 orang.
Januari – Maret 2004, Jumlah BMI yang di Deportasi melalui pintu
pemulangan
Entikong Kalbar sebanyak 1.200 orang
Januari – Maret 2004, Jumlah BMI yang di deportasi 2.888 orang dengan
rincian ;
1.356 orang dipulangan oleh Agen Tenaga Kerja, 1.277 orang TKI di
deportasi
dari Pusat Tahanan sementara Malaysia, 261 orang TKI dipulangakan atas
biaya
perwakilan Indonesia di Malaysia.
Januari – Maret 2004, jumlah BMI yang dipulangkan oleh Calo atau tekong
sebanyak
7.500 – 10.000 orang
Tanggal 1 Juni KBRI Kuala Lumpur memulangkan 154 orang BMI yang
sebelumnya di
Tampung di KBRI dengan berbagai permasalahan.
Januari – Juli 2004, jumlah BMI yang di deportasi oleh Negara Bagian
Kinibalu
sebanyak 83.771 orang.
Jumlah BMI yang terancam di Deportasi oleh Negara Bagian Sarawak saat ini
sebanyak 70.000 orang.
Jumlah BMI yang terancam di deportasi dari Negara bagian Sabah 146.373
orang.
Sejak Januari 2004, hampir setiap minggu jumlah BMI yang dideportasi 500
orang.
Sampai dengan tanggal 3 Agustus 2004 BMI yang dideportasi yang sebelumnya
berasal dari rumah tahanan imigrasi berjumlah 8.500 orang, 5000 orang
diantaranya
berasal dari Jawa Timur dan 3.500 orang berasal dari luar Jawa.
Tanggal 15 Agustus 2004, BMI Deportasi yang tiba di Tanjung priuk
sebanyak 410
orang
Tanggal 21 Agustus 2004, BMI deportasi yang tiba di Tanjung priuk
sebanyak 600
orang
TKI yang di deportasi melalui Tanjung Pinang berdasarkan MOU Departemen
Sosial
RI dan PT. Indosinma Mahkota Indah Pusat Tanjung Pinang sudah berlangsung
sejak bulan Desember 2003 dengan jumlah yang sudah dipulangkan sebanyak
25.000 orang melalui Tanjung Priuk dan Tanjung Perak.
Sampai dengan bulan September 2004 jumlah BMI tidak berdokumen yang
masih
berada di Penjara-penjara Malaysia berjumlah 34.900 orang, 18.000 orang
diantaranya telah mengalami hukuman cambuk, 16.900 orang lainnya menunggu
vonis hukuman cambuk
Tanggal 02 September 2004 sebanyak 700 orang TKI dipulangkan melalui
Pelabuhan
Pasir gudang dengan menggunakan 3 unit kapal (MV Sentosa, MV Samudera
Jaya,
MV Dumai Ekspress, pemulangan ini dilaksanakan oleh PT. Pinang Siam
Karya Utama,
mereka yang dideportasi berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah,
NTB,
dan Sebagian dari Sumatera, mereka ini setelah tiba di Tanjung Pinang di
Tampung
di tempat penampungan yang dimiliki PT. Pinang Siam Karya Utama di daerah
batu
enam Tanjung Pinang. Pemulangan ini tidak melalui koordina dengan
instansi terkait
(pemulangan secara tersembunyi)
Tanggal 7 September 2004 Kantor penghubung konsulat Jenderal RI di
Kuching
Malaysia memulangkan 13 TKI asal Lampung dan Jawa Barat 5 orang diantara
Perempuan. dan sebelum dipulangkan mereka di tampung di tempat
penampungan
TKI Dinas Tenaga Kerja dan Kependudukan Kalbar
Tanggal 20 September 2004 181 TKI Deportasi Malaysia tiba di Tanjung
Priuk dari Tanjung Pinang melalui jalur laut
Tanggal 23 Okober 2004 320 TKI deportasi Malaysia tiba di Tanjung Priuk
Tanggal 29 Oktober tiba di Pelabuhan Internasional Batam Center BMI
dengan
dokumen SPLP sebanyak 40 orang, di pelabuhan sri bintan pura juga telah
tiba BMI
sebanyak 300 orang dengan rincian 100 orang diangkut oleh kapal Feri
Indomas
sedang Feri Kapindo Ekspres dan Marin Mau 200 orang, sedang di pelabuhan
dumai
Riau telah tiba BMI dari Malaysia 130 orang, Belawan 90 orang
Tanggal 3 November jumlah BMI yang telah masuk melalui pelabuhan belawan
sebanyak 700 orang.
Tanggal 3 November 2004 Jumlah BMI yang masuk melalui Pelabuhan Batam dan
Sri
Bintan Tanjung Pinang 2.510 orang
Tanggal 4 November 2004 200 orang BMI tiba di Pelabuhan Tanjung Perak
dengan
menumpang kapal Mambohai Nusantara dan juga hari dan tanggal yang sama
sekitar
700 orang BMI tiba di pelabuhan Nusantara Pare-Pare Sulawesi Selatan
dengan
menumpang KM Dobon Solo
Sejak tanggal 4 November 2004 jumlah BMI yang masuk melalui pelabuhan
Dumai
sebanyak 1.500 orang.
Tanggal 7 November 2004 BMI yang pulang melalui berbagai pintu pemulangan
di
Indonesia yang memakai SPLP baru berjumlah 52.989 orang (menurut versi
Duta
Besar Indonesia untuk Malaysia)
Tanggal 7 November 2004, BMI yang masuk melalui Pelabuhan Kuala Tungkal
Jambi
berjumlah 428 orang yang akan pulang ke berbagai propinsi asal sebagian
besar dari
Jawa Timur dan Lampung.
Tanggal 07 November 2004 BMI yang dipulangkan melalui Pelabuhan Tanjung
Priuk
berjumlah 666 orang dengan menumpang kapal Samudera Jaya I (539 orang)
dan
Kapal Samudera Jaya 88 (127 orang).
Bulan November 2004, BMI asal NTB yang telah tiba di daerah asal yang
bekerja di
Malaysia diperkirakan berjumlah 6.000 orang.
Tanggal 01 November 2004 dari Pelabuhan Klang Malaysia ke Tanjung Balai
Karimun
jumlah BMI yang pulang sekitar 50 orang. Sedang yang masuk ke Nunukan
baru
mencapai 280 orang

III. III.JENIS-JENIS KASUS
Kematian
Jumlah kasus Kematian Tahun 2002, sebanyak 153 kasus
Jumlah kasus kematian Tahun 2003, sebanyak 27 kasus.
Jumlah kasus kematian Tahun 2004, sebanyak 25 kasus
Jumlah kasus kematian Tahun 2005, sebanyak 20 kasus
Catatan :
Penyebab kematian terbanyak akibat jatuh dari bangunan tinggi
Monyoritas kasus tidak ada pengusutan lebih lanjut sebab-sebab kematian
BMI

Trafficking
Tahun 2004, sebanyak 230 kasus yang dicatat oleh KOPBUMI
400 Km dari Kota Pontianak, disekitar desa entikong, kecamatan Entikong
setiap hari-hari rata-
rata 400 calon BMI dimasukan Tebedu & Sarawak Malaysia.
Biaya pengurusan KTP dan paspor oleh Sindikat di Kabupaten Sanggau
Pontianak, untuk KTP
ditarik biaya Rp. 200.000/orang, sedang paspor Rp. 700.000
Dalam sehari minimal 50 orang calon BMI Perempuan mengurus paspor di
Imigrasi kelas III
Pontianak
Calon BMI yang telah mendapat identitas baru selanjutnya dijual oleh Calo
yang ada di Entikong
kepada Calo yang telah menunggu di perbatasan Tebedu dan Sarawak Malaysia
Timur dengan
harga 1.000 s/d 1.500 Ringgit Malaysia/orang.
Untuk Calon BMI di Tanjung Pinang mereka ditampung oleh Sindikat di
Daerah Batu IX, X, dan
XI. Pada umumnya berasal dari NTB, NTT, dan Jatim.
Di Nunukan jumlah Calon BMI yang diberangkatkan sindikat setiap hari
berjumlah 1.000 orang
Sementara untuk daerah Timur Tengah dan Asia Timur dilakukan oleh
Kelompok Sindikat yang
ada di 4 daerah yang ada di DKI Jakarta yakni ; Jakarta Selatan, Barat,
Timur, dan Utara.
Sementara sindikat yang memberangkatkan Calon BMI ke Timur Tengah,
mayoritas beroperasi
di sekitar wilayah Condet.

Hilang Kontak
Tahun 2004, jumlah kasus yang hilang kontak berjumlah 1.159 kasus. Dengan
jumlah terbanyak
berasal dari Sukabumi dan NTB 729 Kasus.
Sementara untuk kasus hilang kontak yang berasal dari Palembang sebanyak
24 kasus,
modusnya sedikit berbeda dengan kasus-kasus BMI yang berasal dari daerah
lain. Karena modus
ini diindikasikan sebagai modus baru penculikan dan penyekapan Korban,
dan korban bisa
dipulangkan setelah menebus 7 Juta kepada PJTKI yang berkantor di
Palembang

Diterlantarkan
Kasus penelantaran BMI yang dilakukan baik oleh Calo, sponsor dan
PJTKI untuk tahun 2004 s/d 2005 berjumlah 940 kasus.
Kemungkinan jumlahnya lebih banyak lagi BMI yang diterlantarkan di
sekitar wilayah-wilayah yang
berbatasan langsung dengan Malaysia, seperti di Nunukan, Batam, Tanjung
Pinang, Belawan,
Kuala Tungkal dan Entikong

Penyiksaan & Pemerkosaan
Kasus penyiksaan & pemerkosaan pada tahun 2004 – 2005 berjumlah
186 kasus
Mayoritas Pelaku penyiksaan dan Pemerkosaan dilakukan oleh Majikan
Meyiksaan & Pemerkosaan sering terjadi di Arab Saudi, Kuwait, Malaysia,
dan
Singapura.

Dipenjara
Tahun 2004 – 2005, BMI yang dipenjara tanpa proses hukum yang adil
berjumlah 34.999 orang
yang terjadi di Malaysia, Arab Saudi, dan Kuwait.
75 % BMI tersebut di penjara dengan alasan tidak memiliki Dokumen
Kondisi BMI khususnya yang berada di Penjara Malaysia, mereka mendapat
perlakuan yang tidak
manusiawi oleh petugas, mereka sering disiksa, saat sakit tidak mendapat
perawatan medis
yang semestinya, saat di introgasi mereka di suruh membuka seluruh
pakaian, seluruh harta
benda dirampas dan tidak dikembalikan lagi kepada pemilikinya setelah
mereka dikeluarkan dari
penjara.
Bantuan Hukum dari Kedubes RI sangat minim, dan kurang respon jika
terjadi kasus
Saat ini ada 17 orang BMI yang terancam hukum mati dan seumur hiup
diberbagai Negara ;
Malaysia, Singapura, dan Arab saudi

Pemalsuan Dokumen/Identitas
Dari tahun 2000 s/d 2005 jumlah pemalsuan dokumen/identitas BMI 1.474.907
Pemalsuan identitas melibatkan calo, aparat desa, sponsor, PJTKI, aparat
imigrasi,
depnakertrans, bahkan melibatkan aparat Departemen Pertahanan (Kolonel
AM Yohanes Pessy
Kasubdit Direktorat Wilayah Pertahanan Ditjen Strahan Dephan yang
memberangkatkan BMI
secara ilegal ke Jepang)
Disebuah daerah di Kabupaten Sukabumi, menjadi salahsatu wilayah tempat
pemalsuan
dokumen/identitas BMI yang dilakukan oleh sindikat bekerja sama dengan
aparat desa setempat

Deportasi
Jumlah BMI dan Anggota keluarganya yang terancam di deportasi tahun 2004
s/d 2005 dari
Malaysia, Arab Saudi, dan Kuwait berjumlah 947.709 dan sudah mengalami
deportasi pada
rentang tahun yang sama sudah mencapai 147.709 orang.

Lain-Lain
Untuk kasus lain-lain ini adalah kasus gaji tidak dibayar, pemerasan dan
penipuan, PHK sepihak,
asuransi tidak dibayar, dan gagal berangkat, tahun 2004 s/d 2005
berjumlah 1.480 Kasus dan
jika dihubungkan dengan kasus-kasus deportasi yang terjadi di Malaysia,
Arab Saudi, dan Kuwait,
maka kasus Lain-lain ini, jumlahnya bisa sangat besar.

IV. KELOMPOK SINDIKAT

KELOMPOK CONDET
Kelompok sindikasi ini, pada umumnya beroperasi di sekitar wilayah condet
dengan istilah “PJTKI
Kaki Lima” dalam melakukan operasinya, mereka lebih banyak memakai Nama
PJTKI siluman alias
tidak terdaftar atau mencatut nama-nama PJTKI resmi tanpa sepengetahuan
pemilik PJTKI
yang bersangkutan.
Kelompok sindikat ini walaupun ada yang berkewarganegaraan Indonesia
asli, tapi pada
umumnya mayoritas warga turunan Arab dan diindikasikan kelompok ini
memiliki jaringan luas di
Negara-negara Timur Tengah, begitupun sumber dana yang mereka miliki
berasal dari
kelompok-kelompok sindikasi perdagangan manusia internasional yang
beroperasi di Timur
Tengah.
Disamping mereka menempatkan BMI Ilegal ke Negara-negara Timur Tengah
juga tidak sedikit
yang mereka kirim ke Asia Timur seperti Hongkong, Taiwan, dan Jepang
Belum diketahui pasti apakah kelompok ini memiliki hubungan dengan
kelompok sindikat yang
beroperasi di daerah Sumatera dan Kalimantan yang memasukan BMI ke
Malaysia melalui jalur
tikus yang ada di berakit dan sungai kecil Tanjung Pinang.
Dalam melakukan pemalsuan Dokumen dan Identitas, mereka diindikasikan
bekerja sama dengan
aparat Desa tempat lokasi recruitmen Calon BMI seperti di Daerah Jawa
Barat, NTB, sebagian
Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara untuk pengurusan paspor, kelompok
ini banyak
melakukan kegiatannya di Kantor Imigrasi Cipinang, dengan memanfaatkan
peraturan yang
longgar dan mentalitas aparat imigrasi yang korup, mereka cukup dengan
membayar antara
500.000 s/d 750.000 pasport dengan identitas baru calon BMI sudah bisa
selesai dalam waktu
sehari.
Dalam memberangkatkan Calon BMI mereka sering memakai jalur Bandara
Cengkareng pada
jam-jam tertentu antara jam 06.00 s/d 10.00 WIB

KELOMPOK ENTIKONG
Kelompok sindikasi ini, pada umumnya beroperasi di berbagai wilayah di
Indonesia, sehingga sulit
untuk melacak mereka karena kantor dan penampungan mereka sering
berpindah-pindah
tempat
Kasus tertangkapnya Budiman dan Lubis di Bogor, serta pengaduan salahsatu
korban
membuktikan bahwa kelompok ini memiliki jaringan luas dan rapi Indonesia.
Dalam melakukan operasinya Kelompok ini terkadang memasang Iklan di
media-media cetak
tertentu.
Kantor sekaligus tempat penampung penampungan kelompok ini, biasanya
berada di
perumahan atau ruko-ruko baik yang berada di Jakarta atau daerah lainnya
seperti di Pontianak,
Medan, dan Tanjung Pinang.
Untuk administrasi mereka membuat KOP Surat dan Stempel PJTKI, yang
seolah-olah resmi.
Tapi tanpa mencantumkan nomor SIUP.
Kelompok ini biasanya memberangkatkan Calon BMI ke Entikong, Medan, atau
Tanjung Pinang
dengan melalui jalur darat maupun laut secara berkelompok antara 10 – 15
orang, untuk tujuan
Malaysia, Singapura, dan Brunei. Untuk jalur Darat dari Entikong calon
BMI dibawa menuju
Sarawak dan Kuching Malaysia, untuk kemudian ditampung di penampungan
sindikat antara 2 –
3 hari oleh kelompok sindikat yang ada di Malaysia sebelum dijual
kepembeli.
Ada indikasi Kelompok ini memiliki hubungan yang kuat dengan sindikat
yang berada di Tebedu
dan Sarawak Malaysia begitupun sumber dana dari kelompok ini berasal dari
sindikat yang berada
di wilayah Malaysia tersebut.
Selain memberangkatkan Calon BMI ke Malaysia, Singapura, dan Brunei,
kelompok ini juga
memberangkatkan Calon BMI ke Taiwan untuk dipaksa melakukan kawin kontrak
sesampainya
Calon BMI bersangkutan di Taiwan
Rata-rata usia Perempuan yang mereka recruit berusia antara 16 – 25
Tahun, yang mereka
recruit dari daerah Jateng, Jawa Barat, Banten, Jatim dan NTT.
Untuk Pengurusan Paspor Kelompok ini diindikasikan beroperasi di Kantor
Imigrasi Kelas III
Entikong Pontianak, dan rata-rata dalam sehari mereka mampu mengurus 50
buah paspor, yang
biaya pengurusannya sama dengan Calo yang menurus paspor di kantor
Imigrasi Cipinang.

KELOMPOK NUNUKAN
Kelompok sindikasi ini, pada umumnya beroperasi di Wilayah Nunukan dan
Pare-para Sulawesi
Selatan.
Dalam melakukan operasinya mereka memanfaatkan perusahaan-perusahaan
travel penjualan
tiket kapal laut yang ada di Depan Pelabuhan Ujung Pare-pare, atau
memanfaat jasa calo untuk
merecruit calon BMI di daerah Bone, Pinrang, Toraja, dan Bulukumba untuk
Sulawesi Selatan,
sedang untuk NTT belum di ketahui pasti cara mereka bekerja, karena
mayoritas BMI asal NTT
yang berada di Nunukan berangkat melalui Pelabuhan yang ada di Pare-pare.
Disamping dalam
memberangkat calon BMI kelompok ini juga memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan
kapal kayu
yang berada di Daerah Awerangnge Kab. Baru, Bulukumba, dan Bone semua
wilayah ini berada
di Sulawesi Selatan
Calon BMI yang dikirim melalui Pelabuhan Pare-pare atau Pelabuhan
Samudera menuju Nunukan,
mereka di tampung di beberapa penampungan milik PJTKI atau sponsor
setelah mereka berada
di Nunukan.
Dalam pengurusan Pasport dan identitas baru, mereka melakukan di Nunukan,
sama yang
terjadi di Entikong dan kantor Imigrasi Cipinang.
Calon BMI yang akan di selundupkan masuk ke Malaysia pada umumnya mereka
melalui pantai
Tawao Sabah Malaysia, mayoritas calon BMI ini akan pekerjakan di
perkebunan kelapa sawit
dengan gaji 1.200 Ringgit Malaysia, tetapi setelah bekerja BMI yang
bersangkutan hanya
menerima upah 50 Ringgit/bulan, karena selebihnya dipotong oleh calo.

Daerah asal BMI yang masuk melalui Nunukan ini mayoritas dari Sulawesi
Selatan, Jawa Timur,
dan NTT.

V. JALUR-JALUR PENEMPATAN SINDIKAT TRAFFICKING
Medan
Belawan salasatu pintu masuk ribuan TKI asal Sumatera Utara maupun dari
daerah lainnya
menuju Johor Malaysia, para Calo/Tekong memasukan TKI ke Johor umumnya
menggunakan
jalur ini dengan kapal laut.

Riau
Wilayah ini dipergunakan oleh Calo/Tekong sebagai pintu masuk Malaysia
melalui Singapura,
Johor, dan Pulau Penang, sebelum ketiga tempat ini, BMI diselundupkan
masuk dari Riau
menggunakan kapal dan perahu-perahu tradisional menuju batu ampar, Batam,
Sri Bintang
Pura, dan Pangkal Pinang, BMI pada umumnya berasal dari daerah Jatim,
Jateng, dan NTT, dan
akan bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) atau buruh pabrik di
Johor

Entikong
Wilayah ini adalah pintu masuk bagi TKI yang akan bekerja di negara
bagian Sarawak Malaysia,
secara geografis Entikong adalah pintu perbatasan darat
Indonesia-Malaysia. Para TKI ini pada
umumnya bekerja sebagai PRT dan Buruh Perkebunan. Disamping memakai jalur
darat dari
Entikong, juga kadang memakai jalur laut langsung ke Kuching Malaysia.
Tetapi bagi
Calo/Tekong jalur darat lewat entikong adalah jalur yang paling aman
untuk menyelundupkan
TKI masuk ke Malaysia.

Nunukan
Wilayah ini merupakan pintu masuk ke menuju Negara bagian Sabah Malaysia,
dan jalur ilegal
yang biasa dipergunakan oleh Calo/Tekong adalah lewat pantai Tawao, TKI
yang memakai jalur
ini pada umumnya mereka bekerja sebagai PRT, Kuli Bangunan, dan Buruh
Perkebunan Kelapa
Sawit, TKI mayoritas berasal dari daerah Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.

Banten
Bandara cengkareng biasanya menjadi tempat penyelundupan CBMI antara jam
06.00 – 10.00
WIB dengan Negara tujuan Hongkong, Jepang, Taiwan, Korea, dan Timur
Tengah

VI. INDIKASI PELAKU POTENSIAL
PJTKI
Ketidak patuhan terhadap hukum merupakan perilaku yang banyak dilakukan
oleh PJTKI,
Tidak adanya surat ijin pendirian resmi sebagai PJTKI
Mempergunakan jasa calo dalam menjaring calon BMI.
Melakukan recruit yang tidak sesuai prosedur yang berlaku
Bersama dengan Calo melakukan penipuan dan pemerasan terhadap calon BMI
Penyediaan tempat-sarana prasarana penampungan (pendidikan dan pelatihan)
yang tidak
memadai
Tidak memberikan informasi yang jelas kepada calon BMI dan BMI, seperti
jadual
keberangkatan, tempat kerja dan calon majikan.
Semata-mata berorientasi bisnis yang kuat dari PJTKI untuk memperoleh
keuntungan yang
sebesar-besarnya atas pengiriman BMI ke luar negeri tanpa memperdulikan
nasib BMI.
Jika ada persoalan cenderung lepas tangan

APARAT DESA
Dalam proses persyaratan administrasi : adanya kecenderungan aparat desa
melakukan
pemalsuan dokumen, seperti pemalsuan Usia, ijazah, status dan
ketrampilan. Dengan
memanfaatkan posisi jabatan yang dimilikinya
Pemalsuan dokumen dan identitas kadang melibatkan pihak keluarga calon
BMI/BMI

APARAT DEPNAKERTRANS
Oknum aparatnya terlibat dalam pemalsuan dokumen BMI
Melakukan kolusi dengan PJTKI
Melakukan pemerasan terhadap BMI dan Anggota Keluarganya
Menjadi calo PJTKI
Tidak responsif jika ada pengaduan BMI dan cenderung hanya menyalahkan
BMI jika terjadi
masalah
Tidak memfasilitasi pembuatan Kontrak Kerja

APARAT IMIGRASI
Terlibat dalam proses pemalsuan dokumen/identitas BMI (paspor)
Melakukan Kolusi dengan PJTKI
Melakukan pemerasan terhadap PJTKI dan BMI melalui proses pengurusan
pasport

APARAT BANDARA, PELABUHAN, & TRAVEL AGENCY
Melakukan Kolusi dengan calo, sponsor dan PJTKI dalam pemberangkatan BMI
ke Luar Negeri
Melakukan pemerasan terhadap BMI baik saat berangkat maupun pulang
Bagi Travel Agency semestinya tidak memberangkatkan BMI, sehingga saat
mereka
memberangkatkan, travel agency tersebut telah menyalahi fungsinya
Travel Agency juga melakukan pemalsuan dokumen/identitas.
Travel Agency melakukan pemerasan, pelecehan seksual.
Travel Agency Menyediahkan penampungan ilegal yang tidak manusiawi
Travel Agency melakukan penipuan dengan janji gaji dan pekerjaan yang
bagus
Melakukan praktek-praktek perdagangan manusia dan tindak kekerasan
terhadap BMI

APARAT DEPLU
Lambat merespon jika ada kasus yang dialami BMI.
Melakukan Kolusi dengan pihak Agency,
Tidak memiliki kemampuan diplomasi untuk melindungi HAM BMI
Jika ada permasalahan cenderung lempar tanggungjawab dan sering
menyalahkan BMI
Terlibat dalam praktek-praktek perdagangan BMI
Melakukan intimidasi dan tindak kekerasan terhadap BMI yang berada di
penampungan
KBRI/KJRI
Melakukan pelecehan seksual terhadap BMI yang di tampung di KBRI/Konjen

[Sumber:
From: seknas kopbumi , Thursday, February 09, 2006 7:08 AM
Subject: [buruh-migran] SKETSA & FAKTA BMI MENJADI KORBAN TRAFFICKING]

One Response to BMI jadi Korban Trafficking

  1. Parjoko Midjan says:

    Untuk membuktikan bahwa derita BMI masih bekepanjangan, alangkah baiknya jika data2nya juga diupdate sehingga semakin menggugah siapapun yang masih punya nurani untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan ini.
    Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: