Nursyahbani Katjasungkana

Peduli Perempuan Karena Trauma Masa Kecil

Wanita ini sangat dikenal sebagai orang yang concern dengan masalah yang dihadapi perempuan. Khususnya perempuan yang menjadi korban penganiayaan dalam rumah tangga. Wajar saja ia cukup dikenal karena keaktifannya diberbagai yayasan seperti LBH APIK, menjabat Sekretaris Jenderal di Koalisi Perempuan, menjadi penasehat di Komnas Perempuan serta beberapa yayasan lainnya.

Selain itu ia juga cukup sering tampil menjadi pembicara di seminar, diskusi dan talkshow di radio-radio yang membicarakan tentang perempuan. Kesibukannya juga bertambah saat ia menjadi calon legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Wanita kelahiran Jakarta 7 April 1955 ini, sejak kuliah di Fakultas Hukum Airlangga Surabaya, sudah aktif di biro bantuan hukum kampus. Tapi jauh sebelum itu, ia sudah mempunyai gambaran tentang profesi sebagai pengacara karena sering membaca buku Mahatma Gandhi yang menjadi pengacara di Afrika Selatan, membela kaum tertindas. Kemudian waktu kecil ia sering dibelikan ayahnya buku Harun Al Rasyid berjudul ‘1001 Malam’ dan buku Abu Nawas yang banyak bercerita soal keadilan. Meskipun bukan sarjana hukum, ayahnya (Katjasungkana-red) banyak belajar mengenai hukum.

Perhatian Nursyahbani pada tertindasnya kaum perempuan ternyata berawal dari traumatis yang pernah dirasakannya di masa kecil. Kejadian ini dialami sahabat baiknya ketika masih kelas 5 SD di Pasuruan, yang disuruh kawin paksa oleh orangtua. Sahabat baiknya ini tetangga yang paling dekat dan duduk satu bangku di kelas. Kebetulan, waktu kelas tiga, Nursyahbani pindah dari Madura, tidak bisa berbahasa Jawa, ke satu desa yang isinya hanya 14 kepala keluarga dan itu jauh karena tanah ayahnya cukup besar, sekitar 7000 hektar.

“Saya nggak punya teman selain dia, kakak saya kost di Jakarta dan Madura. Jadi saya pergi ke kali, nangkap ikan atau naik pohon dengan sahabat saya itu. Meskipun hanya tetangga, peristiwa yang menimpa dia sangat berpengaruh pada diri saya,” kata Nur agak terbata-bata dengan kepala tertunduk, matanya sedikit berkaca-kaca mengingat sahabatnya itu yang nasibnya mirip daun pohon jaranan. Daun pohon Jaranan yang tumbuh di depan rumahnya itu bermahkota. Pas musim semi, daunnya sangat hijau dan mengkilat.

“Kalau daunnya dipetik, itu mirip seperti nasib teman saya yang keindahannya diplintes. Saya sedih sekali waktu itu, dia sudah terang-terangan nggak mau kawin, tapi dipaksa untuk kawin dengan orang yang sekian belas tahun lebih tua darinya. Sehingga pada pada malam pertamanya, teman saya mengikat dirinya dengan stagen dari ujung kaki sampai leher,” kata Nur mengingat.

Bahkan ada juga kakak kelasnya yang kelas 6 SD, tidak jadi ikut ujian kelas 6 karena dipaksa kawin dua hari sebelum ujian oleh orangtuanya. Padahal kakak kelasnya itu sudah terlanjur mendaftar untuk ujian. Tapi gara-gara kejadian itu, Nursyahbani jadi menyelesaikan SD selama 5 tahun saja. “Waktu itu guru mengumumkan siapa yang mau ikut ujian menggantikan Karsiti, yah siapa tau lulus. Saya ikut dan ternyata lulus. Tapi saya bisa lulus SD selama 5 tahun bukan sengaja ikut, betulan ada nasib orang lain yang buruk karena paksaan kawin. Coba Karsiti bisa ikut ujian, pasti sejarah hidupnya akan lain,” kenangnya. Setelah ujian, ijazah SD yang keluar masih atas nama Karsiti, tapi kemudian Kepala Sekolah mengurus ke Kanwil untuk mengubah nama Karsiti menjadi namanya.

“Ada kejadian lucu saat masuk ke kelas untuk ujian waktu itu. Nama Karsiti dipanggil-panggil, tapi saya diam saja. Setelah beberapa kali baru ‘ngeh’ kalau itu nama yang harus saya pakai. Nilai yang saya dapat lumayan juga, padahal ada pelajaran yang belum saya pelajari,”katanya. Gara-gara kejadian yang dialami Nursyahbani, gurunya sampai membuat SD lima tahun di IKIP Malang.

Pada saat itu ia belum terlalu sadar tentang perempuan, yang ia sadari kenapa sampai ada aturan yang bisa memaksa seorang anak untuk kawin dan merampas cita-citanya. Kemudian pemikiran itu membuat Nursyahbani bercita-cita untuk sekolah hukum agar kejadian yang dialami temannya tidak terulang pada orang lain. “Cita-cita saya dulu menjadi hakim bukannya pengacara, tapi nggak apa-apa kok, masih ada hubungannya juga,”kata Nur yang suka nonton film India waktu kecil.

Untuk mendalami hukum, ketika Sarjana Muda, Nursyahbani belajar kepengacaraan. Tahun 1980 setelah lulus, ia aktif di LBH selama 13 tahun. Di LBH ia dapat pengalaman sebagai pengacara, konsep Hak Azasi Manusia dan Hak Perempuan. Setelah itu bergulir terus hingga menjadi trainer, menghadiri berbagai seminar Perempuan dan HAM di Manila, Bangkok, Kuala Lumpur, Thailand dan Madras, menangani masalah TKW di Solidaritas Perempuan dan menjadi Direktur pada tahun 1993, mendirikan LBH APIK tahun 1995 dan Koalisi Perempuan.

Ada ribuan macam kasus yang ditanganinya, mulai dari kasus perceraian, kawin lari, kasus Arie Hanggara, perempuan yang diputuskan pertunangannya oleh Elyas Pical, kasus Farid Hardja yang menceraikan istrinya setelah sehari menikah dan juga tenaga kerja yang di PHK karena kawin. Tapi yang paling sering ia hadapi adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga yang istrinya membunuh suaminya. Kebanyakan penyebabnya karena kesalahan suami yang kawin berkali-kali, tidak memberi nafkah dan memukuli istri. “Istrinya lapor RT tidak ada respon, lapor orangtua sama saja, di BP4 disuruh sabar, mau cerai juga susah pergi kemana-mana diuber suami, sesudah ruwet dan nggak ada yang bisa menolong, istrinya ya membunuh,” kata Nursyahbani.

Hukuman yang dijatuhkan hakim untuk si istri waktu itu, menurut Nursyahbani selama 6 tahun. Hakim bahkan mengatakan dia sebagai pembunuh berdarah dingin, padahal wanita bernama Suyatmi ini membunuh karena suaminya memukulinya sampai pingsan. Setelah sadar dari pingsan, dia lihat suaminya tidur sehabis main kartu, dia tusuk suaminya. Sesudah suaminya mati, lalu dia bawa pisau yang masih berdarah itu ke polisi. “Saya berusaha mematahkan argumen bahwa Suyatmi berdarah dingin. Tapi tetap aja hukumannya 6 tahun,” keluh Nursyahbani yang mengatakan pertama-tama menangani kasus perempuan sering kepikiran terus sampai di rumah, sering bercucuran airmata melihat perempuan yang matanya biru penuh darah, jari tangannya digetok palu oleh suaminya, sampai bengkok dan dioperasi pun tidak bisa lurus lagi.

“Saya kebanyakan marah pada aparat karena respon aparat seperti yang tidak saya harapkan. Juga sedih, kok tega ya suaminya, padahal istrinya capek kerja. Tapi lama-lama emosi saya terlatih, sehingga rasio saya lebih menonjol daripada perasaan. Memang saya akui, obsesi saya pada keadilan itu cukup tinggi. Saya heran kenapa orang sekarang tergerak untuk berjihad ke Afghanistan, tapi kenapa jihad untuk melawan ketidak adilan tidak terlalu besar. Masyarakat tidak kelihatan aksinya,” kata Nursyahbani gemas, pulpen yang dipegangnya untuk mencorat-coret kertas dari tadi,diketok-ketokan ke meja. Nursyahbani menambahkan, sebenarnya hukum yang adil saat ini sudah ada, tapi ibarat payung, payungnya bolong-bolong. Hakim tidak bisa menggunakan payung itu secara maksimal.

Contohnya dalam kasus kekerasan rumah tangga, kalau kekerasan terjadi pada keluarga sendiri, maka pelaku ditambah hukumannya sepertiga. Misalnya kalau penganiayaan pada orang lain hukumannya 12 tahun, pada keluarga sendiri, hukumannya bisa 16 tahun. Tapi ternyata dalam putusan, hakim hanya menjatuhkan hukuman percobaan pada pria itu, artinya sama saja seperti tidak menjalani hukuman, hanya memperingati saja.

Ibu dari empat orang anak ini tidak jarang diprotes oleh anak-anaknya. Akibat kesibukan Nursyahbani, ia sering tidak bisa melewatkan waktu bersama keluarga, terutama untuk anak paling kecil yang saat ini masih kelas 5 SD. “Ia tiap hari minta dibuatin sapu tahu, saya iyakan. Saya nggak tega untuk nolak, tapi ternyata setiap pagi saya harus berangkat jam 6 untuk menjadi pembicara di workshop atau acara lain,”tutur Nursyahbani yang harus bolak-balik Bogor-Jakarta setiap hari. Sedangkan ketiga anaknya yang lain, sudah tidak begitu manja lagi. Anaknya yang paling besar berusia 18 tahun kuliah di Prepatory College Malaysia, anak keduanya kuliah di Fakultas Hukum UNAS dan yang ketiga masih SMA kelas 1.

Bagi wanita yang suka berenang dan jalan kaki selama 20 menit untuk menjaga kesehatannya ini, ia selalu berusaha memasak makanan kesukaan keluarga untuk menjalin hubungan batin dengan anak dan menjalin kecintaan anak pada rumah. Dengan suaminya yang juga pengacara di perusahaan swasta itu, Nursyahbani tidak punya banyak masalah. Bahkan mereka bisa saling memberi masukan tentang perkara yang sedang mereka tangani masing-masing. Walaupun sudah banyak berbuat untuk perempuan, Nursyahbani terkesan selalu merendah. Ia mengaku tidak perlu mendapat penghargaan atas kerja yang dilakukannya selama ini. Tapi ia sangat menghargai pihak yang menobatkannya sebagai Kartini Abad Ini, Wanita Pembangunan oleh LSM atau Perempuan pilihan Matra 2000. “Saya hanya ingin berbuat seperti pesan ayah. Dulu Ayah pernah bilang, Berbuat Sekali Saja Sesudah Itu Mati. Artinya, kita buatlah sesuatu yang sebaik mungkin dan berguna untuk orang lain selagi hidup, sesudah kita mati, orang akan kenang kita selamanya,” kata Nursyahbani Katjasungkana, ketika ditanya alasannya tidak pernah menolak untuk hadir di berbagai seminar dan diskusi kecil sekali pun.

Tapi ia punya obsesi pribadi untuk bisa berhenti bekerja di LSM dan bekerja di Profit Company sambil mengurus bunga. “Sekarang ini saya orangnya nggak tegaan, berapa pun bayaran untuk jasa saya, baik sebagai pengacara pribadi atau di LSM selalu saya terima. Mungkin sudah saatnya saya punya kantor sendiri dan punya manajer yang bisa mengatur profit untuk saya,”ungkap Nursyahbani sambil senyum-senyum. Untuk saat ini ia masih cukup puas disibuki dengan kegiatan pendidikan politik, lobi kebijakan, bikin usulan dan merancang undang-undang perdagangan perempuan.***

Indosiar
sumber: solusihukum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: