Tiga Gadis Dijual

KARIMUN,ST:Tepat hari Valentine kemarin, betapa senangnya Nu (15) diperbolehkan ibunya merantau dari Medan ke Tanjungbalai Karimun. Apalagi segala keperluannya ditanggung Er. Tak disangka, perjalanan hidupnya berubah kelam.
Tanggal 14 Februari kemarin, ibunda Nu didatangi Er. Ia lantas menewarkan jasa, apakah diperbolehkan membantu mencarikan kerja bagi Nu sebagai waitress di sebuah diskotik di Tanjungbalai Karimun. Rupanya yang diajak bicara tergiur kebaikan ER.
Er memang pintar bicara, buktinya Ew (17) dan Yi (15) juga tertarik untuk ikut bekerja. Jadilah ketiga gadis muda ini berkhayal segera bekerja dan mendapatkan gaji. Bahkan Ew dan Yi yang kebelet ingin kerja langsung mengemasi barangnya tanpa sepengetahuan orang tuanya masing-masing.
Keduanya berangkat dari kampung Suka Ramai, Medan tanggal 14 Februari itu juga. Di KM Kelud sudah ada Bi yang menjemput ketiga gadis itu. Dan berlabuhlah perawan-perawan melintasi lautan membawa harapan nan indah.
Begitu menginjakkan kakinya di Karimun, Bi dan tiga gadis muda lengsung dijemput Ai, bos Bi,  yang sebelumnya dikontak pakai HP. Selanjutnya rombongan ini menuju karaoke di kecamatan Tebing, tempat Ai bekerja.
Hari-hari berikutnya, Nu, Ew dan Yi bukan bekerja sebagai waitress tetapi dijual sebagai wanita penghibur. Tak diketahui bagaimana awalnya sehingga kasus ini dapat terkuak.
Kapolres Karimun, AKBP Drs H Nughi melalui Kasat Reskrim AKP Edward Indharmawan Eka C SIK yang didampingi Kaur Reskrim, Iptu Karyono, membanarkan hal itu, kemarin. Dikatakan Edward pihaknya mendapatkan kabar dari seseorang yang menyebutkan ada gadis di bawah umur dipekerjakan di karaoke.
Mendapat kabar itu Kanit III Reskrim Polres Karimun Ipda Taryono dan anggotanya langsung menuju lokasi yang disebutkan informan. Rupanya laporan itu benar. Saat digerebek ada tiga gadis di bawah umur yang dipekerjakan sebagai PSK, dan itu sudah berlangsung dua minggu lebih.
Saat ini, Nu, Ew dan Yi dititipkan kepada Yayasan Kaseh Puan, dan dinyatakan sebagai korban trafiking. Rencana selanjutnya, mereka bakal dipulangkan oleh yayasan bekerja sama dengan Polres Karimun.
Berdasarkan pengembangan, enam orang diduga terlibat sindikat trafiking tersebut. Sementara, polisi baru berhasil mengamankan empat dari enam tersangka.
Keempatnya adalah Ai, Bi, Ra (anak kandung Er) dan Yu (istri pemilik karaoke). Sedangkan dua yang masih dicari polisi adalah Er dan Tm, pemilik karaoke. Kabarnya, Tm lari ke Malaysia, dan Er masih di Medan.
Bi yang sempat dikonfirmasi koran ini mengatakan tak tahu persis apa yang terjadi. Padahal dirinyalah  perantara ketiga gadis ini hingga ke Tanjungbalai Karimun.
”Saya tak tahu persis yang jelas Ai menyuruh saya untuk menjemput mereka di Medan,” ujar pria yang berdomisili di Sidorejo, Tanjungbalai Karimun ini.
Untuk tugas itu, ia dibekali Rp5 juta dari Ai. Pria yang berambut cepak ini mengaku baru kali ini melakukan hal seperti ini.
Atas perbuatannya tersebut keempat tersangka dijerat dengan pasa 55 dan 56 KUHP yunto pasal 88 dan 83 undang-undang RI no 23 tahun 2002 dengan ancaman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjaran dan denda paling tinggi Rp300 juta.

Menolak Didenda Rp2 Juta

Kedukaan menyelimuti Yi, Er dan Nu. Masih terbayang bagaimana mereka harus keluar masuk hotel untuk menemani bobok-bobok tamu-tamu dari Singapura dan Malaysia.
Saat dijumpai di Yayasan Kaseh Puan, ketiganya tertunduk dengan muka sedih. Ketiganya terus terang merasa ditipu oleh orang-orang yang awalnya dianggap sebagai dewa penolong.
”Namun sampai sini kami malah dibawa ke sebuah ruko, dan saat itu juga saya sudah langsung diboking sebesar Rp800 ribu satu kali,” jelas Er. Yi, teman sekampung Er (tersangka) mengatakan hal yang sama.
”Gimana kami mau nolak? Kalau tak dituruti kami kena marah, dan didenda Rp2 juta jika tidak melayani tamu yang memboking kami pada saat itu,” ujar Yi yang berkulit putih ini.
Rasa dendam terlihat jelas di raut muka Yi yang terlihat tegang. ”Saya sangat geram melihat mereka yang telah menipu saya, kalau boleh saya ingin menjambak mereka hingga berlutut di depan saya,” kata Yi sambil memperagakan tangannya yang menjambak rambutnya sendiri.
Selama itu, mereka menuturkan, Ew melayani sembilan lelaki, sedangkan Yi dan Nu masing-masing enam kali.
Setelah kejadian itu, mereka tak ingin lagi berada di Karimun. Hanya satu keinginan kuat dalam hati, segera pulang kampung. Apalagi mereka mendengar kabar orang tuanya yang diberitahu polisi tentang kejadian ini menangis.
”Saya ingin peluk ibu kalau sampai di Medan. Saya nyesal meninggalkan orang tua tampa pamit, namun semua sudah terjadi, tak ada yang dapat disesali kecuali maaf dari ibu dan ayah,” papar Yi.
Saat ditanyai POSMETRO soal gaji, mereka mengatakan mendapat upah dari hasil bokingan yang dibagi dua. Namun hasil itu baru dapat mereka terima setelah masa kontrak mereka habis dalam waktu enam bulan lamanya.
”Saat pertama datang kemari kami langsung disuruh tanda tangan kontrak kerja yang bermaterai dan apa isinya kami tak sempat membacanya lantaran disuruh cepat,” jelas Nu.
Tempat tinggal juga tidak gratis begitu saja, melainkan mereka harus membayar uang sebesar Rp610 ribu dengan rincian uang makan, uang tempat tinggal, uang cuci baju Rp460 ribu dan sisanya uang sewa lemari baju.
Di akhir pertemuan, Yi titip pesan buat polisi. ”Pak tolong hukum mereka seberat-beratnya, tak ada lagi yang kami minta selain itu, jangan biarkan mereka hidup dialam bebas dengan hati yang tenang menghirup udara segar, biarkan saja mereka terpuruk di dalam penjara kalau bisa untuk seumur hidupnya saja,” tegasnya. (ria/pmkarimun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: