Perempuan dan Busung Lapar

Oleh: Ali Khomsan

Ketika seorang anak menderita gizi buruk, sering kali ibu (perempuan) merasa paling bertanggung jawab karena ibu adalah orang paling dekat dalam pengasuhan anak balita, terutama dalam hal makannya.

Padahal, timbulnya masalah gizi pada anak balita jelas bukan melulu tanggung jawab perempuan. Demokrasi dalam keluarga mensyaratkan gagalnya tumbuh kembang seorang anak adalah tanggung jawab seluruh keluarga, terutama ibu dan bapak. Bapak sebagai pencari nafkah utama tidak bisa melepas tanggung jawab, menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anak kepada ibu (istri). Apalagi, sebagian istri ternyata juga berkarier sebagai pekerja.

Pada keluarga miskin trade-off yang terjadi apabila ibu bekerja adalah hilangnya kesempatan dia mengasuh dan membesarkan anaknya secara optimal. Ini bagaikan buah simalakama, sebab seandainya ibu tidak bekerja dan penghasilan suami tidak mencukupi, maka seluruh anggota keluarga (termasuk anak balita) akan mengalami defisit konsumsi gizi. Penelitian di India membuktikan, tumbuh kembang anak balita yang tidak diasuh ibunya akibat ibu bekerja, ternyata lebih baik dibandingkan ibu tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan suami yang kurang.

Kita menyadari perempuan di seluruh dunia memainkan peran ganda, yakni sebagai ibu, pengatur rumah tangga untuk pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, produsen dan kontributor penghasilan keluarga, dan pengatur organisasi kemasyarakatan yang berdampak pada kesejahteraan sosial. Inilah yang dikenal sebagai Empat Peran Perempuan.

Ekonomi keluarga

Keterlibatan perempuan dalam pekerjaan domestik dan pekerjaan berorientasi peningkatan ekonomi keluarga, ternyata tidak dibarengi asupan gizi memadai. Padahal perempuan juga mendapat tambahan tugas reproduksi yakni mengandung anak-anaknya.

Beberapa studi di Asia dan Afrika menunjukkan, asupan kalori kaum perempuan hanya sekitar 50-70 persen. Bila perempuan kurang gizi mengandung, maka mereka berpotensi melahirkan bayi BBLR (berat bayi lahir rendah, kurang dari 2,5 kg).

Studi pada BBLR menunjukkan, ketika dewasa mereka sangat berpotensi menderita penyakit degeneratif seperti jantung koroner, sebab tidak sempurnanya struktur pembuluh darah sehingga mudah tergores dan akhirnya menyebabkan timbunan kolesterol. Bisa juga bayi BBLR ini terhambat perkembangan organ hatinya sehingga mengganggu metabolisme kolesterol yang berdampak pada munculnya penyakit jantung.

Biaya sosial

Kebijakan pemerintahan yang kurang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat akan melahirkan biaya sosial yang harus dipikul perempuan. Kebijakan itu, misalnya pengurangan atau penghilangan subsidi pangan, kebijakan yang berdampak pada kenaikan harga bahan pokok, pemangkasan biaya pembangunan kesehatan dan pendidikan. Perempuan dipaksa menyesuaikan diri dengan mengalokasikan waktu lebih banyak untuk mendapatkan tambahan penghasilan agar kebutuhan seluruh anggota keluarganya terpenuhi.

Persoalan busung lapar atau gizi buruk sesungguhnya juga tidak terlepas dari pemahaman dan keterampilan perempuan dalam merawat anak. Di atas sudah saya uraikan masalah ini harus dipikul proporsional antara pria dan perempuan. Hanya saja peran perempuan (ibu) seyogianya tetap lebih besar dibandingkan peran pria (bapak), terutama ketika anak dalam proses pertumbuhan yang cepat (anak balita).

Pola asih-asah ibu merupakan faktor sangat menentukan tumbuh kembang anak yang merupakan ciri kualitas sumber daya keluarga. Di dalam mewujudkan pola asih-asah ini ada faktor eksternal yang turut berperan, yakni status sosial ekonomi keluarga yang mencakup pendapatan, pendidikan, interaksi sosial, dan nilai-nilai dalam keluarga.

Prasyarat penting

Untuk bisa mengembangkan pola asih-asah yang sehat, prasyarat penting adalah pendidikan, beban kerja, serta ada tidaknya pengasuh alternatif.

Ibu berpendidikan tinggi akan lebih giat mencari dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan memelihara anak. Mereka juga akan menaruh perhatian lebih besar pada konsep sehat untuk seluruh anggota keluarga sehingga anak-anak akhirnya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Seorang ibu yang kecapaian sehabis bekerja sebagai buruh pabrik, bekerja lembur, atau terkena giliran kerja malam, tidak punya kesempatan cukup memberi pola asuh yang baik kepada anaknya yang masih dalam usia dini. Akibatnya anak tersebut tidak dapat memperoleh cukup ASI.

Sementara itu, untuk membeli susu formula dirasakan terlalu mahal dan tidak sebanding dengan pekerjaan sebagai buruh pabrik. Akhirnya dapat ditebak, anaknya pasti akan segera jatuh dalam derajat gizi buruk. Kasus seperti ini agak bertolak belakang dengan studi di India di atas karena pada hakikatnya ibu akan berkorban apa saja agar anak balitanya sehat dan cukup gizi.

Sumber daya keluarga berkualitas pada akhirnya akan sangat ditentukan perempuan. Upaya meningkatkan pendidikan perempuan, memberi kesempatan dalam berbagai sektor pekerjaan, serta memudahkan akses memperoleh pelayanan kesehatan dan gizi akan berdampak besar pada kualitas bangsa secara keseluruhan.

Prof Ali Khomsan
Dosen Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB, Bogor

sumber: Harian Kompas, Senin, 7 Agustus 2006

2 Responses to Perempuan dan Busung Lapar

  1. I read some of the posts and I think it is a great place! I like to utilize my credibly resolution I have a joke for you =) What happens when a ghost haunts a theater? The actors get stage fright.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: