Istri Temanku

Dia hanya tukang batu. Entah mengapa, suatu hari ia datang ke rumahku di Bidadari, Tanjungpiayu, Batam. Biasanya pembicaraan didominasi masalah renovasi rumah (maklum, rumahku benar-benar RSS dengan dinding masih batako belum diplester), tetapi hari itu ia mendadak menanyakan internet.

Pikirku, ia ingin melihat-lihat file rumah yang bertebaran di jagat maya. Aku ajak ia ke Batam Center dan memasuki sebuah Warnet di Carnaval Mall. Pertama yang kuajarkan bukan browsing, tetapi melatih jemarinya bergerak di mouse. Sekitar 15 menit, ia mengaku siap dan mulailah petualangan di dunia maya kami jalani.

Aku ingatkan, ketika kursor mouse berubah menjadi tanda tangan itulah link. Berbekal pengetahuan sederhana itu temanku menjelajah sendiri. Aku hanya duduk di sampingnya. Setiap kali ada link, dikliknya. Tak cuma websites, image pun dikliknya sehingga ia merasa senang. Bayangkan, lelaki yang setiap hari berbaur dengan semen dan pasir tiba-tiba melihat menara condong di Italia, atau Singapura, meskipun lewat gambar.

Mendadak, ia bertanya, “Kalau Arab Saudi ada keterangannya, nggak?”

Oh, rupanya ia sedang kangen istrinya yang tengah menjadi TKW di negeri itu. Kusarankan memasukkan keyword arab saudi di kotak pencarian google. Begitu dienter, entah berapa banyak halaman yang menampilkan kata arab saudi, TKW, TKW jadi korban kekerasan seksual, TKW disiksa majikan dan kalimat lain yang sejenis.

“Kok ada TKW korban pelecehan seksual di Arab?” tanyanya padaku, seakan tak percaya.

Lalu kuminta temanku membuka linknya dan dengan teliti ia membuka sekitar 10 berita tentang TKW bernasib malang. Kubiarkan ia berkelana, karena aku tahu mungkin dengan cara itu ia berkomunikasi dengan kerinduan terhadap istri tercintanya.

***

Hanya saja, saat aku pulang kulihat wajahnya tak seceria saat berangkat. Tak perlu kutanya aku tahu ia tengah bergumul dengan hal bertentangan, antara percaya dan tak percaya soal berita yang baru dibacanya.

Sebelum berpisah di Simpang Kabil, ia masih sempat bertanya. “Memang berita itu benar, ya?”

Aku hanya bisa mengangguk. Saat kutuliskan ini, sebenarnya aku rindu untuk mengajari temanku internet lagi. Namun ia tak pernah lagi memintaku. ***

3 Responses to Istri Temanku

  1. ela says:

    saya sangat kecewa dengan apa yang terjadi terhadap TKW Indonesia yang di luar negeri sana hanya menjadi korban pelecehan seklsual. mengapa pemerintah tidak segera menindak lanjuti tetang masalah ini ? padahal itu adalah kewajiban pemerintah untuk melindungi warga negaranya, meskipun warga negaranya itu ada di luar negeri ! pemerintah seharusnya lebih tegas terhadap masalah sepeti ini. bukannya bersantai-santai saja. karena bukan hanya ini saja kasus TKW yang terjadi, tapi sudah begitu banyak kasus yang melibatkan WNI yang ada di luar sana.

  2. ela says:

    tusa tanah deng pemerintah yang seperti ini. mengapa pemerintah tidak begitu memperhatikan WNI, pa karena mereka hanya seorang WNI ? mereka juga manusia, pakah pemerinyah sudah tidak punya rasa kebersamaan, rasa kasihan ?

  3. John says:

    Makasih atas infonya , Adria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: