Teman Ibuku

Suatu sore, 20-an tahun lalu, ibuku kedatangan tamu. Teman arisannya yang memang kerap bertandang ke rumahku.

Pembicaraan antarkaum ibu, biasalah. Dari SPP anaknya hingga masalah keluarga. Aku sedang membersihkan semprong (kaca penutup api pada lampu tempel minyak tanah) di balik dinding. Aku masih kelas V SD dan tiap sore aku memang ditugasi ayahku menyalakan lampu petromaks serta beberapa lampu tempal minyak tanah. Listrik memang belum masuk ke dasaku.

Tak hanya samar, dengan jelas aku mendengar satu kalimat yang dilontarkan teman ibuku namun baru kutahu artinya ketika beranjak remaja. “Nganti saiki kok aku gak pernah ngrasakke enak karo xxx (ia menyebutkan nama suaminya) yo? Kandane wong kok uenak,” begitulah kalimat itu.

Waktu berjalan. Lulus SD, aku ke SMP, lalu SMA. Di SMA-lah aku mulai meraba arti pertanyaan teman ibuku. Apalagi sejumlah teman dekatku biasa “jajan” di lokalisasi dan bercerita tentang kelezatan itu. Juga saat aku melakukan onani ketika terangsang melihat anak tetangga kosku yang paling suka mengenakan celana pendek ketat.

Kutanyakan pada diri, apakah rasa seperti yang kurasakan saat hendak klimaks yang tak pernah dirasakan teman ibuku?

Aku semakin jelas ketika menikah dan menyadari betapa ketegangan otakku setelah kerja seharian menjadi kendur setelah bergulat dengan istriku. Kalau memang benar apa yang kutangkap dari pertanyaan teman ibuku, sungguh berdosanya lelaki atau tepatnya suami. ***

One Response to Teman Ibuku

  1. she mang goh says:

    wew. .tuh yg diatas. .cerita apa,an?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: