Perlakuan Kasar Hingga Dicabuli

Batam, ST:Mau menjadi TKW ke Singapura, coba baca dulu cerita Ayu (nama samaran). wanita delapan belas tahun ini kini dalam penanganan Poltabes Barelang. Dari Jogja, tempat asalnya, menjadi pembantu yang selalu diperlakukan sewenang-wengan bahkan nyaris terjebak dalam sindikat penjualan wanita. 
Perjalanan Ayu bermula setahun yang lalu. Dari rumah neneknya di Jogja, Ayu mencoba ingin merubah hidupnya dengan mendaftarkan diri pada sebuah peruhaan penyaluran tenaga kerja ke luar negri. Saat itu, Singapura jadi tujuan. Pekerjaan yang ada, apalagi kalau bukan menjadi pembantu rumah tangga.
Melalui sebuah agen penyaluran tenaga pembantu, ia kahirnya mendapatkan majikan. Ia bekerja tak henti siang dan malam. Mulai masak, mencuci dan menjaga anak majikan. Upaya yang diterima perbulan 260 dolar.
Sebenarnya, ia sudah sangat senang dengan pekerjaan dan upah yang diperoleh. Satu hal yang membuatnya tak betah. Perlakuan sang majikan yang terasa sangat menekan. Marah-marah, perlakuan kasar selalu ia terima. Semakin hari, semakin menekan perasaan Ayu. Dua bulan bekerja di rumah itu, ia merasa tak tahan lagi. Ayu nekad kabur dan kembali ke Agen tempatnya mendapat pekerjaan.
Tapi, apa yang diperolehnya. Justru makian dari bos agen. Ia malah dituding tak bertanggung jawab dan membaut malu Agen.  Artinya Ayu harus meneruskan kontrak kerjaanya. Mau tak mau itu harus ia lakukan. “Iya saya dicarikan  majikan majikan lain,” Ayu melanjutkan ceritanya.
Lagi-lagi ia harus menerima derita. majikan barunya, bukan bertambah halus perlakuannya. Justru ia mendapat perlakuan semakin kasar. Setiap ia melakukan kesalahan, piring, gelas tak segan dilemparkan ke arah Ayu.
harapan Ayu pun sirna. Sebelumnya ia  berharap, dengan bekerja di Singapura bisa membantu kehidupan neneknya. Bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi, ia harus menyudahi itu. Ia harus keluar dari negara yang sebelumnya adalah harapan buatnya. Ya kini hanya tinggal penyesalan. Ternyata semua tak seperti bayangan Ayu.  “Aku harus kabur,” begitu takad Ayu.
Nah, untuk mencari aman Ayu mendatangi Kepolisian Singapura. Ia mengadukan semua keluhannya. Ia mengaku tak kuat lagi perlakukan seperti itu. Ini mungkin sudah nasib dara kelahiran Bekasi ini. Di kantor polisi  ia justru bertemu dengan staf agen. Lagi-lagi Ayu mendapat makina bukannya dukungan dari orang senegaranya itu.  Untungnya, Polisi Singapura punya pilihan bijak. Ayu dikembalikan ke Indonesia melewati Batam. “Saya sendiri, tak tahu apa-apa. Waktu itu cuma bawa uang, 56 dolar,” tutur Ayu.
Singkatnya, keinginan Ayu untuk keluar dari Singapura sudah terpenuhi. Ia  tiba di Batam dengan cerita Baru. Harapannya, memang bukan untuk meraup uang untuk membantu keluarganya lagi. Ia hanya punya satu keinginan bisa kembali ke Jogja. Tapi sayang, di Batam Ayu lagi-lagi harus mengalami nasib pahit. Tak seorang pun di pulau ini ia punya kenalan. Tak ada saudara, tak punya siapa-siapa.
Ini lemabran baru buat Ayu. Ia berkenalan dengan seorang wantia bernama Ningsih. Saat itu, ia si teman baru memohon pertolongananya. Ningsih mengaku tak memiliki uang sepeser pun. Rasa iba Ayu pun muncul. uang ditangan cuma cukup entah untuk berapa hari. “Tapi kerena saya kasihan, saya tolong, saya jgua minta untuk menginap dirumahnya,” cerita Ayu.
Akhirnya, disebuah tempat kos di belakang Hotel Bali, Ayu numpang tinggal bersama Ningsi dan saudaranya. Disini inilah lagi ekpahitan harus ia terima. Suatu hari, Ayu ditwari pekerjaan oleh kakak Ningsih. Ayu pikir ini mungkin keberuntungan dia. Ia pun menyetujuinya. Ayu diserahkan pada seorang yang mengaku bisa mempekerjakannya di sebuah klub malam. “Di Karoke Rainbou,” Ayu mencoba mengingat-ingat lagi. Tapi, apa? Di sana kembali naas harus menunggu. Bukan pekerjaan yang diharap, justru Ayu dipekerjakan sebagai seorang pelacur. “Tamu pertama saya, orang kapal,” ucapnya.
Di sebuah Hotel di Penuin, ia memasuki kamar dengan pria hidung belang yang membokingnya. Ia mengaku bingung, ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Dengan segala keberaniannya, ia pun memohon pada tamunya, untuk tidak diapa-apakan. Bahkan ia minta untuk dibawa kabur dari karoke itu. Beruntung tamu pertama Ayu ini, pria yang baik. ia pun meluluskan permohonan itu. “Saya dikasih uang Rp300 ribu,” ujar Ayu.
Bermodal uang itu, Ayu pergi untuk mencari kos. Di Blok II, Ayu mendap tkan kamar kos yang tak seberapa besar. Saat itu, kembali ia harus terlolos dari nasib buruknya.  Satu keinginan Ayu, ia harus bisa bertahan hidup dan kembali pulang.
Sua tu malam, ia kembali berkenalan dengan seorang teman wanita. Ia diajak untuk hepi di Diskotek Planet. Tapi, ia bingung untuk apa ia di sana. ia pikair, ia salah pilih teman. “Habis itu aku diajak lagi ke pasific,” kata Ayu.
Nah, kebetulan seorang pria mendekatinya. Ia berkenalan dan berujung pada pertemanan. Ayu diantar pulang. Saban hari hubungan mereka semakin dekat. “Dia baik,” kata Ayu. Bahkan, tak berapa lama ia diban tu untuk mencari. Singaktnya, Ayu mendapat pekerjaan di sebuah rumah makan di Legenda Malaka.
Akankah, perjalanan Ayu membaik? Ternyata tidak. Majikan prianya, Te, jgua berotak cabul. Suatu malam, kamar Ayu didatanginya. Ayu dipaksa un tuk melayani nafsu bejkatnya. “Tapi tak sampai diperkosa, aku dipeluk, diciumi diraba-raba,” pelan suara Ayu.
Perlakuan itu berulang lagi hingga kedua kali. Dalam hati Ayu, tak mau harus terulang terus begini. Nah, peristiwa ini pun  sampai ke telinga Iwan, teman pria yang sudah beruat baik padanya. Iwan pun menyarankan untuk membaut laporan ke polisi. tanggal 2 Desember lalu, Ayu dan Iwan mendatangi Poltabes Barelang. Mereka membuat laporan tentan gulah sang majikan.
Selang beberapa hari, Ayu dipanggil lagi ke Potabes untuk membawa lemabran laporan polisi itu. sayang laporan itu tak berada di tangannya. Laporan polisi itu ada di tangan Iwan. Artinya Ayu harus mencari Iwan. Sialnya, kebaikan Iwan selama ini ternyata berbuntut petaka. Iwan justru mengancam Ayu jika tidak mau mengikuti kemauannya. Ia berharap Ayu mau damai dengan sang majikan dengan ganti rugi sejumlah uang yang juga bakal didapatnya.
Untung niat itu sudah tercium oleh Ayu. Ayu kembali ke Poltabes dan membaut laporan yang tak diduga, Ia juga melaporkan perbuatan pengancaman Iwan tadi. “Saya diancam pakai pisau,” kata Ayu. Nah, akhirnya, Sang majikan dan Iwan pun harus berurusan dengan polisi. Kini nasib Ayu dalam perlindungan polisi. Ia ditampung di ruang Renata Poltabes Barelang.
Mengingat kisah ini, Ayu menagku kapok harus ke Singapura lagi. “Tapi tak tahu nanti,” ujarnya.(sya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: