Dijanjikan Jualan, Nyatanya Dilacurkan

Batam, ST: Kemarin, kedua wanita ini diperiksa di Unit Ruang Pekara Khusus (RPK), Potlabes Barelang. Fi (22) dan Sr(22) berhasil kabur dari mucikarinya dengan alasan hendak beli pembalut. Mereka merasa tertipu dengan ajak seorang yang telah membawanya hingga ke Batam. Dijajikan bekerja di kafe menjual minuman, tapi teken kontrannya malah menjadi pekerja seks komersial (PSK).
“Saya cuma mau pulang,” ujar Sr. Sejak tanggal 13 Desember lalu, ia tiba di Batam. Ia diming-imingi pekerjaan oleh temannya saat masih berada di Kampung halamannya di Lampung. Katanya, ia akan dipekerjakaan sebagai penjual minuman di salah satu kafe. Tawaran itu pun disanggupinya. Tanggal sebelas di bulan ini, ia pun diberangkatkan ke Jakarta yang kemudian terbang menuju Batam. “Tapi pas tanda tangan kontrak, saya kok jadi pelacur,” tuturnya.
Tak kuasa lagi Sr menolak. Ia mesti membayar semua hutang selama diperjalanan. Mau tak mau ia harus menerima pekerjaan itu. Pernah suatu waktu rekannya menghadap pada sang mucikari yang akrab mereka sapa Papi Akau itu, mengutarakan keinginan mereka untuk pulang kampung. Memang tanpa masalah, Mucikari itu mengizinkan. Tapi dengan satu syarat mereka harus membayar dulu Rp4 juta. “Dapat uang dari mana,” katanya.
Keinginan untuk keluar dari kekangan mucikari ini, begitu besar dihari Sr. Hanya saja ia belum memiliki keberaniaan. Seandanya, ada lagi teman yang berniat sama, pasti ia lakukan.
Nah, Kamis (21/12) pagi, rencana kabur itu betul-betul terlaksana. Fi salah satu rekan sekerjanya ternyata memiliki keinginan yang sama. Mereka pun sepakat untuk ngacir. “Ya dijaga ketat, tapi kami alasan mau beli pembalut,” cerita Fi.
Cerita Fi berbeda dengan Sr. Dia hanya merasa tertipu dengan bualan salah satu rekannya yang bekerja di sana dan saat itu pulang ke Jakarta. Katanya, di kafe itu ia akan mendapatkan abnyak bokingan dan sebagian besar bokingan itu untuknya. Kenyataanya, dari bokingan Rp300 ribu  mereka cuma mendapat Rp90 rupiah. Belum lagi mereka harus membayar uang makan sebesar Rp500 ribu dan uang cuci Rp100 ribu.
Nah, sekarang ditangan polisi mereka merasa lebih aman dan nyaman. “Kita akan pulangkan ke tempat asal, itu juga keinginan mereka,” terang Kanit RPK Bripka Puji. Menurutnya, nasib kedua wanita ini adalah bentuk perbudakan.
Dipertegas Kasat Reskrim, Kompol Sugeng Putut Wicaksono SIK, semetara ini polisi anya bisa mengembalikan mereka ke tempat asalnya saja. Untuk menjadi PSK pun itu keinginan mereka sendiri. Soal unsur pidana yang melibatkan kafe dan kedua wanita itu? “Mereka sudah dewasa dan keingan mereka,” jawab Putut.(sya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: