Wanita Pingsan Dihajar

foto102.jpgBatam, ST:Tiba-tiba perempuan yang berjalan sempoyongan itu tergeletak tak sadarkan diri, Senin (1/1) sekitar pukul 21.21 WIB. Para pengojek yang tengah berada di pangkalannya, hanya beberapa meter dari gerbang Komplek Legenda Malaka, Batamcentre, bergegas menolong.
foto103.jpgTubuh wanita yang mengenakan kaos warna putih dan celana berukuran sedang warna cokelat itu, lalu digotong warga menuju ke dalam sebuah bangunan yang masih dalam proses pengerjaan. Diatas deretan 3 kursi kayu panjang milik penjual nasi goreng, tubuhnya direbahkan.
“Dia belum bisa bicara, mulutnya hanya bergetar saja dari tadi,” ujar seorang pengojek yang mengangkatnya dari tepi jalan. Meski telah diberi air mineral dalam kemasan botol dan gelas plastik kecil, namun kondisi wanita yang memakai jam warna hitam di pergelangan tangan kirinya itu, masih tampak lemas.
“Sempat ngasih nomor telepon keluarganya, katanya ada di Bengkong Baru. Tapi sudah sejam tak juga datang,” kata warga lainnya. Sebentar kemudian, sejumlah warga mulai berdatangan guna melihat dari dekat kondisi perempuan itu. “Oh, cewek ini yang dipukuli tukang pangkas rambut di sana (sambil menunjuk), dua kali dia pingsan,” celetuk seorang warga.
Tak menunggu lama, sebagian warga termasuk beberapa orang saksi yang mengetahui peristiwa pemukulannya, kontan beranjak untuk menjemput pelaku penganiayaan. Akhirnya, warga pun berhasil mengiring seorang pelaku dari tempatnya bekerja, yakni Pangkas Rambut Sultan di samping Minimarket Best Mart, Legenda Malaka.
“Ampun pak, tolonglah. Saya ngaku salah,” rengek pelaku. Sementara, warga yang kian berkerumun tak sedikit yang ingin meluapkan emosi. “Kita beri hadiah dia dulu, sebelum diserahkan ke polisi, biar tahu rasa dia,” kecam warga lainnya. Beruntung warga bisa menahan kesabarannya, sehingga pelaku batal dihakimi.
Kepada POSMETRO, pelaku yang mengenakan stelan baju cokelat motif kotak-kotak dan celana panjang biru itu mengaku bernama Armen (30). Menurutnya, alasan ia memukuli wanita itu lantaran kesal permintaan rujuknya ditolak. “Dia mantan istriku, kami sudah setahun berpisah dan masih dalam proses cerai, dia tak mau rujuk,” ulasnya.
Dikemukakan lelaki yang baru sekitar 20 hari menetap di Ruko lantai 2 tempat pangkas rambut itu, hubungannya dengan wanita yang belakangan diketahui bernama Fitmawati (26) tersebut, sudah berjalan selama 4 tahun. “Kami sama-sama dari Padang. Hubungan kami sudah empat tahun, tapi setahun kami pisahan,” lanjut Armen.
Suara warga semakin riuh begitu mendengar wawancara koran ini, dimana Armen mengaku hanya memukul satu kali saja. “Hajar saja! Bohong dia, kami lihat tadi,” kelakar warga. Sedangkan sejumlah orang yang dituakan di perumahan itu, kepada koran ini meminta agar didatangkan petugas, supaya pelaku segera dibawa ke kantor polisi.
Setelah dua kali ponsel Ipda Yunita Stevany, Kanit Reskrim Polsekta Batamcentre, dihubungi koran ini, lantas beberapa menit kemudian mobil Patroli Polsekta Batamcentre merapat ke lokasi kejadian. Korban dan pelaku pun lalu diboyong. Selang beberapa saat, warga satu per satu meninggalkan Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Bersamaan dengan bubarnya kerumunan warga, penjual nasi goreng malah kena apes kehilangan helm warna hijau miliknya. “Wah, tadi ditaruh di sini (dekat posisi Fitmawati terbaring), kok nggak ada lagi yah?” ungkapnya dalam dialek Jawa yang kental. Suasana Pangkas Rambut Sultan sendiri, usai insiden terlihat sepi. “Biar di penjara saja, suami kok main pukul,” geram warga.(kau)

>>>Berdamai di Kantor Polisi

BERBEDA dengan alasan yang diutarakan Armen, mengenai penyebab penganiayaan itu. Lain lagi yang disampaikan Fitmawati ketika ditemui koran ini di Mapolsekta Batamcentre, saat kondisi kesehatannya pulih setelah 2 kali pingsan. “Kami mau berdamai saja,” bebernya membuka cerita.
Dikatakannya, pemukulan terjadi tatkala dirinya menanyakan keberadaan handphone berkamera miliknya. “Saya tanya, abang mana hape? Soalnya di rumah tak ada, saya hubungi dia pun susah. Makanya saya datangi ke tempat dia,” kilah Fitmawati. Menurutnya, sebelum dirinya dipukuli di depan ruko tersebut, perang mulut sempat timbul ketika keduanya turun dari lantai 2.
“Kami berpisah gitu aja, dari Desember 2005 lalu. Saya ke Batam, dia pun sebelumnya sempat ke Medan dulu. Kami punya satu orang anak perempuan, namanya Cintia. April nanti usianya 3 tahun. Dia tinggal sama ibu saya (neneknya),” terangnya sembari duduk bersandar di kursi sofa warna merah muda. “Hubungan kami retak setelah orang tua kami mulai tidak setuju,” sambungnya.
Hingga tengah malam pasca kejadian pemukulan, keduanya masih menjalani pemeriksaan di ruang Unit Reskrim Polsekta Batamcentre. Ada dua orang wanita lainnya yang menemani, baik Fitmawati maupun Armen pungkasnya kompak membuat surat pernyataan bahwa peristiwa itu tak akan terulang.(kau)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: