Hentikan Kekerasan pada Perempuan

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyediakan bantuan hukum (Legal Aid) bagi perempuan dan anak perempuan. Pemberian layanan ini dalam bentuk konsultasi hukum, bantuan hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan.

“Bentuk pelayanan semacam ini, antara lain untuk melakukan advokasi bagi perempuan yang korban-korban kekerasan,” demikian siaran pers Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia menyambut Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2007.

Seperti diketahui,  tanggal 8 Maret dideklarasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Hari Perempuan Internasional pada 1975. Peringatan ini merupakan pengakuan dunia bagi upaya pencapaian kesetaraan gender dan peran perempuan dalam segala sendi kehidupan. Tahun ini, peringatan Hari Perempuan International bertema: “Ending Impunity for Violence against Women and Girls”.

Dalam pandangan Yayasan LBH Indonesia, 3 tahun setelah disahkannya UU No 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, masih banyak kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap isteri dan anak dalam lingkup rumah tangga.

Selain di lingkup domestik kekerasan terhadap perempuan dan anak banyak terjadi di ranah publik yaitu kasus-kasus perkosaan, pelecehan seksual dan ada kecenderungan korban-korban kekerasan tersebut dikriminalisasikan oleh Pelaku. Di sini bisa terlihat walaupun Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban sudah diundangkan namun faktanya belum mampu untuk melindungi perempuan korban kekerasan.

Menurut YLBHI, sistem hukum dan sosial di Indonesia belum dapat memberikan jaminan atas penegakkan dan perlindungan terhadap hak-hak perempuan dan juga rasa keadilan bagi korban kekerasan. Perempuan Indonesia belum dapat mengakses sepenuhnya hak yang paling mendasar untuk bebas dari segala bentuk kekerasan dan penganiayaan (hak untuk hidup dengan rasa aman) dan bebas dari segala bentuk diskriminasi sebagaimana yang telah dijamin dalam amandemen Konstitusi.

“Karena kenyataannya perbedaan yang dialami perempuan seperti karena jenis kelaminnya, gender, status pekerjaannya dan situasi khusus perempuan lainnya menyebabkan mereka rentan mendapat perlakuan yang diskriminatif,” kata Wakil Ketua III Badan Pengurus Yayasan LBH Indonesia A. Patra M. Zen.( mh habieb shaleh/Cn08 )

sumber: suara merdeka 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: