Kekerasan Seksual pada Wanita : Mimpi Buruk yang Belum Usai

Hati ini bener-bener terenyuh dan hampir menitik-kan air mata, saat melihat beberapa pasien korban pemerkosaan yang dirawat disana.. selain dari banyak balita yang menderita gizi buruk, Malaria, Tuberculosis dan penyakit lainya. Cathy dan beberapa staff medis yang saat itu bertemu dan berkenalan, dengan senang hati mempersilahkan saya untuk mengambil beberapa jepretan di sekitar rumah sakit, sembari sesekali ngobrol dengan beberapa pasien disana.

Mar 28, 2007 . 19:28 • 52 comments
Sebagai presiden wanita pertama di Afrika, Ellen Johnson- Sirleaf menjabat sebagai presiden Republik Liberia setahun yang lalu telah berjanji untuk menanggulangi masalah pemerkosaan yang jumlahnya kian meningkat dan hingga kini masih telah menjadi hal yang biasa terjadi selama konflik bersenjata 14 tahun lamanya ini.
“Saya ingin merubah lemon yang asam ini menjadi segelas limun – merubah situasi buruk ini berangsur membaik”, klaim Annie Demen – sang Deputy Minister of Gender Liberia, jabatan yang salah satu tugasnya adalah untuk memberdayakan kaum wanita Liberia.

Ibu Demen ini juga mengetuai Panitia Kerja (Panja – Taskforce) yang bertugas untuk mengeliminir kekerasan Seksual di Liberia.

Sebuah pagi, saya lupa kapan itu waktunya – sekitar pertengahan bulan Oktober tahun lalu banyak berita di koran lokal kota Monrovia yang mengabarkan bahwa anak gadis berumur 11 tahun, bernama Janjay, korban tindak pemerkosaan, 6 bulan kemudian meninggal dunia.

Itu barulah segelintir dari banyaknya kasus serupa lainya.

Dalam setiap perjalanan dari rumah menuju kantor dan dari kantor menuju ke supermarket di kawasan Downtown Monrovia, atau juga saat dalam perjalanan menuju UNMIL Logistics Base di bilangan Freezone – Freeport, kemana saja sayapergi di seantero Monrovia City, acapkali kedua mata ini terpanggil untuk melirik pesan yang terpampang jelas melintang berdiri tegak sebuah billboard yang berkata “Stop Rape”.

Pesan Billboard serupa juga berkata: “Seek free treatment now at Benson Clinic” – banyak dari billboard ini disponsori oleh Organisasi Kemanusiaan Medecins Sans Frontieres (MSF).

Salah satu kawan baik saya, Juanita Christina, staff MSF asal Jakarta, yang sebelumnya bekerja di Liberia – untuk organisasi kemanusiaan yang satu ini, mengisahkan bahwa Rumah Sakit yang di kelola MSF di Island Hospital, beberapa waktu lalu didatangi banyak pasien yang mengantri diluar pagar. Seorang kepala suster jaga memberitahukannya bahwa 5 dari 10 pasien yang datang tiap harinya, namun tidak kurang dari setengah dari jumlah itu bukanlah wanita dewasa, namun melainkan anak gadis belia usai 5 sampai 12 tahun.

Setiap bulan, si Rumah Sakit MSF tersebut memberikan pelayanan treatment terhadap sejumlah balita korban pemerkosaan, namun kasus yang mulai tercatat oleh RS tersebut baru dimulai sejak tahun 2003, jadi bayangkan berapa banyak kasus serupa yang tidak sempat tercatat sebelumnya disitu dan ditempat lainya. kalau mau ditelusuri, sudah pasti berjubel sekali para pelaku biadab ini memenuhi ruang sel penjara. Mengerikan, bukan?

Satu waktu, saya berkunjung ke Rumah Sakit dimana Juanita ini bekerja. Cathy, itulah sapaan akrab yang diberikan kawan-kawan koleganya di MSF – Island Hospital

Salah satu anggapan bodoh yang kerap melekat di kepala pelaku tidakan keji ini adalah bahwa: “Dengan melakukan itu [pemerkosaan pada balita] dapat mencegah dan/atau menyembuhkan diri dari HIV/AIDS”

Hati ini bener-bener terenyuh dan hampir menitik-kan air mata, saat melihat beberapa pasien korban pemerkosaan yang dirawat disana.. selain dari banyak balita yang menderita gizi buruk, Malaria, Tuberculosis dan penyakit lainya. Cathy dan beberapa staff medis yang saat itu bertemu dna berkenalan, dengan senang hati mempersilahkan saya untuk mengambil beberapa jepretan di sekitar rumah sakit, sembari sesekali ngobrol dengan beberapa pasien disana.

Sumpah, si kampret ini nggak kuat untuk bisa berlama-lama disana.. pemandangan sekitar dimana setiap sudut kedua mata ini memandang, sarat dengan derita para wanita dan tangis anak Liberia, yang mungkin kalau saya harus bertukar profesi dengan si Neng Cathy, mungkin hanya tahan seminggu saja dan langsung memutuskan untuk mudik dan tak kembali lagi.

Setiap anak yang menatap kembali kedua mata saya ini dengan sambil mengulurkan kedua tangan-nya untuk minta diraih dan dipeluk, mengingatkan telak pada kedua bocah kecilku di kampung.

“Cathy, ayo kita ngobrol di kantor-mu saja.. saya dah nggak kuat berlama-lama disini..”
Akhirnya ajakan itu dibalasnya dengan senyum dan berlalu lah kita berdua keluar bangsal rumah sakit tersebut.

Takhayul dan Kesambet Setan

Buat Liberia, yang selama 14 tahun konflik bersenjata ini, keadilan sepertinya hanya dicapai dengan bahasa kekerasan dan penggunaan senjata. Seiring dengan banyaknya kasus seperti ini dilayani oleh sang rumah sakit, kadang saya juga bertanya pada orang-orang dan kolega disekitar… mengapa kok ada orang yang tega sekali hati dan pikirannya untuk berbuat itu?

Setelah mendapatkan beberapa gelengan kepala dan goyangan di pundak dari beberapa kampret.. saya juga mendapatkan jawaban berupa bisikan dari satu dua gelintir orang bahwa tindakan itu erat hubungannya dengan takhayul atau kepercayaan.

“They think it will bring them good luck”,kata seorang kampret.

Astagfirullah.. orang-orang ini bener-bener deh otak dan hatinya sudah hilang entah kemana.. kok bisa ada yang berpikir begitu???

“Oh, those people must have been moved and seduced by Satan the Devil, intentionally jumped on the peaceful five-year-old girl, removed her clothes and committed the crime of rape…This is Africa, My friend… things like that happen here”, ada juga yang berkata seperti itu.

Ya, ini pas waktunya 1 tahun lalu sejak presiden wanita pertama, Ellen Johnson-Sirleaf, disumpah-jabataan sebagai Presiden Liberia. Ketika ia mengumumkan perang terhadap pemerkosaan, beliau menjejak-kan titik balik pemberantasan ini dengan juga menyatakan bahwa dirinya juga pernah mengalami situasi serupa, menjadi korban tindak kekerasan seksual.

Sejak itu, mulai terdengar perubahan kebijakan peradilan yang menyatakan bahwa pelaku tindak pemerkosaan sudah tidak dapat keluar dibebaskan dengan uang jaminan lagi. Besar harapan publik dengan meninggalnya Jayjay dapat terus mengobarkan api dan semangat perang terhadap pemerkosaan ini.

PS: Berita terkini yang diterima via email bahwa saat ini Cathy sedang bertugas di pedalaman jauh di pelosok Kenya, tetap dengan MSF. Keep up the spirit, Cathy!🙂

sumber: pralangga 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: