Peran Agama dalam Kekerasan Perempuan

Bangsa Indonesia sangat menghargai agama. Agama menempati kedudukan istimewa dalam menjaga moral kehidupan sehari-hari. Agama mengajarkan masyaraklat untuk bersikap adil, bretabiat cinta kasih, menjunjung tinggi kemanusiaan dan memerangi kebinatangan. Tanpa agama sulit dibayangkan bagaimana penyelenggaraan hidup bersama dapat dilangsungkan. Sebagian besar orang berharap terhadap agama, baik secara terang-terangan maupun hanya dalam hati. Bahkan ketika dirinya mengakui tingkah lakunya kebinatangan, mereka masih tidak berhenti mengharap misalnya mendapatkan parter yang baik, mendapatkan anak yang berbudi luhur, mendapatkan orang-orang yang mengakuinya dan menolongnya. Tetapi apakah pemeluk agama tergerak hatinya oleh kasus perkosaan dalam rumah tangga misalnya, pelecehan seksual di tempat-tempat umum dan perendahan perempuan yang banyak dijumpai di berbagai tempat?

Sikap Umum Pemeluk Agama

Pada umumnya saya menjumpai, pemeluk agama bersikap sinis terhadap kasus kekerasan yang menimpa perempuan. Perilaku sinis ini diekspresikan baik secara verbal maupun non verbal, terang-terangan maupun tidak kentara. Diantaranya adalah kecenderungan sikap curiga dan menyalahkan korban (blaming the victim). Entah bagaimana prosesnya, jika terdengar ada perempuan korban maka yang teringat adalah perempuan korban dengan berbagai sifat dan karakternya yang menyebabkan dia diperkosa, dilecehkan, diremas, dijahili dan sebagainya. Sebelum memeriksa keadaan yang sesunguhnya terjadi, sudah bercokol dugaan buruk dalam pikiran. Perempuan yang menjadi korban tentulah perempuan yang rendah, sebelum dan sesudahnya. Dia menjadi korban pasti karena dia nakal, seronok, memakai pakaian yang minim, berbadan seksi dan tidak ditutupi dengan pakaian yang longgar, bersikap genit, berbuat maksiat, tidak patuh terhadap pasangan sah, terlalu dekat dengan laki-laki dan sebagainya. Dan setelah kejadian, perempuan korban itu tidak akan dihargai sebagaimana sebelum peristiwa terjadi. Sudah jatuh ketimpa duri.

Sikap kebanyakan pemeluk agama ini terekspresikap di banyak situasi oleh berbagai pihak yang berprofesi apa saja. Para tentangga yang membicarakan berbagai kemungkinan kenakalan korban sebelum terjadi perkara, para agamawan yang menasehati agar segera bertobat kepada Allah, kembali ke mesjid, gereja dan kelenteng-kelenteng. Para polisi yang mengeinterview dalam penyidikan dan penyeledikian dalam rangka mencari bukti perkara memperlakukan kasar dengan berbagai pertanyaan yang standard ataupun melebihi standard hukum, tapi menyakitkan korban. Jaksa dan hakim kurang lebih demikian juga dalam merekonstruksi kejadian perkara, tanpa mempertimbangkan perasaan korban. Dan sebagainya.

Hal ini semua yang akan kita lihat, pengaruhnya ganda terhadap perempuan korban sangat menyedihkan. Pengaruh dari kasus yang menimpanya dan pengaruh dari sikap masyarakat terhadapnya. Perempuan korban pada umumnya telah kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri, hidup dan masa depannya untuk selamanya.

Selain sikap di tas, ada juga sikap pemeluk agama yang baik dan prihatin terhadap kasus kekerasan yang menimpa perempuan. Biasanya yang ada dalam pikiran pertama kali adalah siapa pelakunya. Siapa orang yang begitu keji dan jahat itu. Dialah orang yang paling berdosa dalam kasus ini. Tetapi juga orang tua dan lembaga pendidikan yang tidak mendidiknya menjadi orang yang taat kepada Allah, sehingga anaknya mendapatkan masalah. Baik menjadi pelaku maupun menjadi korban.

Dua sikap ini tidak banyak membantu dalam menghadapi kekerasan terhadap perempuan. Dua-duanya merefleksikan suatu pandangan bahwa agama (baca: moral) adalah jalan satu-satunya untuk mengantisipasi dan menyelesaikan masalah. Agama adalah segala-galanya. Dengan ketaatan dan kepatuhan terhadap agama, idealnya kekerasan terhadap perempuan tidak akan terjadi.

Fakta yang terjadi berbeda dengan apa yang banyak dipikirkan oleh pemeluk agama dan agamawan. Banyak perempuan korban kekerasan berasal dari berbagai kalangan dengan sifat-sifat sangat taat dalam agama, berpakaian rapi dan berjilbab, pasangan yang taat kepada suaminya, mahasiswa pandai dan pendiam, perempuan baik-baik dan tidak nakal. Demikian pun pelaku kekerasan terhadap perempuan (baca: laki-laki). Tidak pelaku kekerasan menunjukkan sikap kebinatangan. Diantara mereka adalah orang baik-baik dan bahkan terhormat di masyrakatnya. Diantara mereka ada yang menjadi guru, dosen, polisi, tentara, orang biasa, pekerja, penganggur, bahkan agamawan.

Profesi-profesi ini tidak terlalu berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan. Artinya, siapa saja perempuan dapat menjadi korban, dan siapa saja laki-laki dapat menjadi pelaku kekerasan.

Akar Perendahan Perempuan dalam Tradisi Agama

Ada sementara analisis mengkritik bahwa agama merupakan salah satu pendukung berlangsungnya kekerasan terhadap perempuan. Artinya, agama harus ikut bertanggungjawab atas ajaran-ajarannya yang merendahkan perempuan di mata Tuhan dan manusia.

Mendengar kritik ini kita merasa bersedih. Siapapun kita, dari agama manapun, dalam profesi apapun, baik polisi maupun warga, baik politisi maupun gali, akan tersentak jika agamanya dikritik. Bukankah Tuhan Maha Suci? Tetapi kita juga dapat berfikir balik, mengkritisi diri kita, apakah agama identik dengan Tuhan? Apakah agama itu suci seperti Tuhan? Apakah agama itu segalanya? Jika umat beragama merespon balik kritik itu secara reaktif dan dengan cara kekerasan, mengangkat salib dan mengumandangkan takbir sambil membakar, membabat dan mengebom, maka akan semakin membenarkan anggapan pengkritiknya.

Saya mencermati kritik ini. Dan ada temuan penting dalam tradisi besar agama yang merupakan skandal teologi agama-agama besar dunia, dimana kita adalah bagian dari hasil didikannya. Sekandal itu adalah doktrin penciptaan/kejadian, kejadian adam dan hawa, peristiwa turun mereka berdua dan fungsi Hawa di hadapan Adam.

Dikisahkan, baik dalam hadits maupun dalam kitab kejadian, pertama Adam diciptakan dari tanah dan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Apa artinya, penciptaan mereka dari substansi sejenis, tetapi bentuk yang berbeda. Adam lebih substantif daripada Hawa. Hawa hanyalah dari tulang rusuk. Ada beberapa ustadz yang sangat semangat menerangkan bahwa tulang rusuk itu bengkok dan menyulitkan. Jika diluruskan akan patah dan jika dibiarkan akan bengkok dan merepotkan. Demikanlah perempuan. Hati-hati bersikap padanya. Kedua, Hawalah yang menyebabkan Adam makan buah larangan. Adam telah menolak setan yang menggodanya, akan tetapi Hawalah yang terbujuk rayuan syetan, dan bersatu dengan setan membujuk Adam. Lalu mereka diberi sangsi turun ke bumi. Maka, hati-hati pada perempuan. Penggoda dari sananya, dan lebih dekat kepada syetan. Pada jaman pertengahan, karena keyakinan demikian, jika ada perempuan yang cerdas di masyarakatnya akan rentan dengan tuduhan sebagai tukang sihir. Di masyarakat Timur juga banyak hantu, syetan berjenis kelamin perempuan. Ketiga, Hawa diciptakan sebagai teman dan pelayan Adam. Maka, perempuan harus belajar pada sejarah kejadiannya, harus taat kepada laki-laki dan melayaninya. Amat jarang didengarkan di telinga kita, laki-laki menaati istri. Itu kebablasan, dan bukan pada tempatnya.

Pengaruh Imaginer Simbol

Mitos ini, disebut mitos karena telah menjadi bagian dari kepercayaan, akan tetapi sulit dibuktikan kebenarannya, telah banyak berpengaruh pada sejarah perilaku laki-laki dan perempuan (beragama) di dunia. Di Mesir, menurut pengamatan Fatima Mernissi dan Nawal El Sadawi, sebagian besar perempuan mengalami semacam patologi (sakit psikologis secara sosial) karena mereka dipaksa menjadi perempuan seperti tuntutan doktrin ini. dan di masyarakat Jawa, dan Indonesia pada umumnhya, jauh dari Arab dan Timur Tengah yang melahirkan mitos ini, juga mengalami kasus yang sama. Perempuan yang tidak seperti tuntutan doktrin ini akan disebut perempuan yang tidak baik-baik. Bukan perempuan Timur, atau perempuan yang kebablasan.

Hal di atas tidak mengherankan, mengingat ajaran ini tidak saja tertulis, tetapi juga berbelit-belit dengan kepentingan kekuasaan. Siapakah yang lebih menentukan dalam pengambil kebijakan dalam agama antara laki-laki dan perempuan? Siapakah yang lebih banyak berkesempatan belajar agama secara penuh antara laki-laki dan perempuan? Untuk apakah laki-laki belajar agama, untuk kekuasaan dalam agama. Sebaliknya untuk apakah perempuan belajar agama, untuk menaati peraturan dan pasangan. Semuanya dengan tugas masing-masing diatasnamakan dan disebut “bertaqwa”. Siapakah yang banyak mengarang buku agama, laki-laki. Siapakan yang banyak mendakwahkan agama, laki-laki juga. tidak sulit memahaminya.

Selain kekuasaan di atas, hal yang sangat dalam pengaruh imaginer-nya adalah symbol dan mitos di atas. Jika kita cermati, selain mitos Adam dan Hawa yang benar-benar soal kejadian laki-laki dan perempuan, kita juga mendapati struktur bahasa, baik nama-nama, kata-kata maupun tata bahasa. Jika nabi adalah laki-laki, bahkan Tuhanpun berjenis kelamin (gender bahasa) laki-laki. Allah, Yahweh, Yesus, dan siapa lagi. Saya tidak menyalahkan penyebutan ini, akan tetapi lebih melihat pengaruh imaginernya luar biasa terhadap jenis kelamin yang maha benar, maha tinggi dan maha penentu nasip hidup ini: laki-laki. Dalam kesempatan pelatihan-pelatihan saya mengadakan cekslist cepat, tak boleh dipikir, apa jenis kelamin nabi? Jawab setiap peserta di banyak pelatihan adalah laki-laki. Dan bagaimana kesan kita akan Tuhan, lak-laki atau perempuan, jawabnya segera: laki-laki.

Jawaban segera ini penting dalam rangka memahami “hal yang tidak kita sadari”, imaginasi kita, pengaruh imaginer dari doktrik teologi kita. Walaupun setelah dipikir agak dalam, benarkan Tuhah itu laki-laki, maka jawabannya akan lain. Ada yang menjawab tidak tahu, ada yang menjawab tidak laki-laki dan tidak juga perempuan.

Tanggung Jawab Agama

Penganut agama tidak usah panik. Kita membutuhkan daya nalar yang dalam dan pandangan baru mengenai peran agama dalam hidup dan bernegara. Masalah ini jarang dibicarakan. Kalau toh ada hanya parsial, tidak menyeluruh dan bersama. Saya yakin, agamawan bukan segalanya. Teologi bukan segalanya. Mereka adalah makhluk yang lemah. Yang kuat adalah ketika kita bersama, menghargai perbedaan, membangun bersama-sama kebenaran yang terus berkembang. Hidup tidak dalam penikmatan akan kekuasaan laki-laki dan perempuan. Itu binatang. Manusia punya tradisi yang lebih luhur sejak empat ribu tahun sejarah berlangsung.

Bentuk kongkritnya, secara teologis harus dirumuskan. Dan secara praksis juga harus dirumuskan. Di lain kesempatan, saya akan menulis mengenai hal ini. Akan tetapi, agama sangat menghargai kemanusiaan. Laki-laki dan perempuan sederajat di mata Tuhan. Banyak ayat dalam Quran, Injil, dan kitab-kitab yang lain secara parsial menyatakan akan hal ini. Akan tetapi secara menyeluruh, belum banyak yang merumuskan anggapan ini kecuali terjerumus dalam jurang yang sama, laki-laki di anggap hebat dan perempuan dianggap setingkat lebih rendah di hadapan laki-laki. Kita banyak berhutang budi pada para ahli seperti Asghar Ali Enginer, Fatima Mernissi, Nawal el Sadawi, Kamla Bashin, Vandana Siva. Sahabat-sahabat kita di Indonesia juga mulai banyak yang berfikir dan merumuskan hal ini. Misalnya Ruhainy Zuhayatin, Nunuk P. Murniati dan sebagainya. ***

sumber: gwshandry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: