UU KDRT tak Hanya Lindungi Perempuan

Kekerasan dalam rumah tangga sudah menjadi fenomena sosial yang sering terjadi di semua lapisan masyarakat, baik kelas ekonomi tinggi maupun bawah. Secara umum kekerasan dalam rumah tangga bisa dialami oleh siapa saja baik itu perempuan maupun laki-laki. Tidak bisa dipungkiri bahwa korban kekerasan terbesar menimpa pada perempuan. Berdasarkan data yang ditulis oleh KOMNAS PEREMPUAN yang dimuat dalam “Peta Kekerasan Perempuan Indonesia”, 1997-1998 terdapat 140 kasus diantaranya 82 kekerasan berdimensi ekonomi, hampir semuanya mengalami mengalami kekerasan mental, 27 perempuan mengalami kekerasan fisik, 41 perempuan mengalami kekerasan seksual. Di NTT ada 140 kasus sebagimana dikutip oleh buku tersebut dari Harian Umum Pos Kupang, Di Aceh dari 76 responden terdapat 37 yang mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga, Laporan LNH APIK Pontianak terdapat 25 kasus pengaduan. Jika ditinjau dari akibat hukum oleh adanya hubungan hukum perkawinan, seharusnya tidak asing bagi mereka suami/istri yang hidup berumah tangga dituntut untuk memenuhi hak dan kewajibannya seperti yang tertera dalam akta nikah sebagaimana yang diatur dalam UU nomor 1 tahun 1974. Namun tidak ada suatu peraturan perundang-undangpun di Indonesia yang bisa menjatuhkan sanksi baik pidana maupun denda terhadap tidak dipenuhinya kewajiban hukum oleh suami/istri, baik kebutuhan batin, fisik mauapun ekonomi keluarga.

Sejauh ini penanganan segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga hanya menjadi urusan domestik setiap rumah tangga. Artinya, negara dilarang campur tangan ke ranah domestik warga negaranya. Seberat apapun penderitaan yang menimpa korban, anggota rumah tangga itu pula yang berhak untuk atau tidak untuk menyelesaikannya. Namun dalam kenyataannya kekerasan dalam rumah tangga tidak jarang menimbulkan akibat penderitaan yang serius bagi korban bahkan sampai menimbulkan matinya korban. Budaya masyarakat yang menstigma bahwa pertengakaran, kekerasan oleh anggota keluarga adalah aib yang harus ditutup rapat, secara tidak langsung ikut melanggengkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Belum lagi kontruksi sosial yang menempatkan perempuan/ anak pada kelompok masyarakat rentan, ketidakberdayaan mereka semakin menempatkan mereka pada posisi yang terpuruk. Olehkarena itu, sebagai salah satu negara perativikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman (CEDAW), maka negara wajib memberikan penghormatan (how to respect), perlindungan (how to protect) dan pemenuhan (how to fulfill) terhadap hak asasi warga negaranya terutama hak atas rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan serta diskriminasi. Terlebih lagi dalam beberapa pasal dalam UUD 1945 pasca amanedemen II, pengaturan hak asasi manusia sudah sangat kongkrit sebagimana yang dimaksud dalam 28A, ps. 28 B, Pasal 28D ayat 1 dan ayat 2, Pasal 28 E, Pasal 28G, Pasal 28H,Pasal 28I, Pasal 28J, dan Pasal 29, juga UU nomor 39 tahun 1999 tentang HAM. Oleh karena itu Undang-undang anti Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dimaksudkan untuk dapat menyelesaikan, meminimalisir, menindak pelaku kekerasan, bahkan merehabilitasi korban yang mengalami kekerasan rumah tangga.

Pasca disahkannya UU nomor 23 Tahun 2004 dan dinyatakan berlaku efektif sejak 22 september 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, sosialisasi yang dilakukan pemerintah masih sangat kurang. Dampaknya, banyak asumsi-asumsi yang lahir dari ketidakpahaman tentang pengaturan dalam UU tersebut baik dari kalangan masyarakat secara luas maupun terhadap aparat dan penegak hukum. Salah satunya adalah prejudice bahwa UUKDRT hanya untuk melindungi perempuan. Sehingga secara umum masyarakat menjadi sangat apatis terhadap UU tersebut. Namun jika kita secara cermat menelaah ketentuan-ketentuan UU tersebut, tentunya sikap apatis ini sangat tidak beralasan. Oleh karenanya, segala bentuk sosialisasi sangat diperlukan sehingga UU ini tidak hanya hitam di atas putih saja. Pertama, bahwa pengertian korban yang dimaksud oleh UU ini dan harus dilindungi adalah anggota keluarga yang timbul dan lahir karena hubungan perkawinan (istri/suami/anak) atau Keluarga non inti (lihat ps. 2 (1)c. atau : orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga (hubungan darah/perkawinan/pengasuhan/perwalian) atau Anggota rumah tangga lainnya (yang menetap dalam rumah tangga/ yang bekerja dalam rumah tangga) atau anggota rumah tangga lainnya seperti pembantu pengertian “rumah tangga” dalam UU aquo cakupannya sangat luas sehingga tentu saja tidak hanya untuk melindungi perempuan/ istri tetapi juga anggota keluarga lainnya bahka mereka yang tidak memiliki pertalian darah tetapi telah lama hidup bersama keluarga atau bekerja dalam rumah tangga tersebut dan tak terkecuali suami. Sebab, fakta dilapangan menunjukan bahwa suami, anak, atau pembantu rumah tangga juga bisa mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kedua, bahwa bentuk kekerasan yang dimaksud oleh UU aquotidak hanya kekerasan kasat mata atau kekerasan fisik, tetapi juga termasuk kekerasan ekonomi, amupun kekerasan psikis. Berdasarkan ketentuan ps. 1 ayat (1) UU aqou,

kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.

sumber: legal.daily-thought.info 

One Response to UU KDRT tak Hanya Lindungi Perempuan

  1. Joko Prayitno says:

    Asallamualaikum Wr.Wb.

    Dengan segala Hormat
    Saya saat ini berdomisili di kota Solo, secara tidak langsung saya telah mengetahui maupun mendengar lewat suara dari Hp,
    ( ketika saya berhubungan dengan korban lewat Hp, dimana pada saat itu korban beserta anaknya mendapat kekerasan phisik dari Bapak kandungnya )
    Bahwa telah terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) , penindasan dan perampasaan hak-hak hidup kaum perempuan dan anak-anak. Di Rusun Karet Tengsin, Jl. Karet Pasar Baru Barat 1. Rt. 18. Rw. 17 no: 403. Blok B4
    Lantai 4. Tanah Abang Jakarta Pusat 10220.
    Bapak kandung atau Kakek kandung sebagai pelaku kekerasan terhadap darah dagingnya sendiri anak perempuan-nya dan cucu laki-lakinya, seedang kejadian tersebut sudah hampir sepuluh tahun lamanya……
    Dimana kekerasan itu meliputi kekerasan pisik dan mental, penganiayaan, pemukulan dengan tangan langsung ataupun dengan suatu benda sedapatnya terhadap kedua korban, serta penekanan , memaki-maki, pelecehan dengan kata-kata yang kotor (Asune, Lontene ) dan menghinakan / merendahkan martabat kaum perempuan , yang mengakibatkan kedua korban pada saat ini ketakutan, trauma ( terutama cucunya ) sedangkan Ibunya kehilangan percaya diri , rendah diri , tertutup dengan banyak orang dan tidak berdaya untuk melawan, menderita tekanan mental yang mengakibatkan sakit-sakitan terus badan kurus dan sering merasakan pusing kepala, tidak nyaman sulit tidur dan susah makan ( makan selalu terasa tidak enak ) Padahal pada saat ini rumah itu , rumah kontrakan milik Anaknya,(Korban) dan Si Bapak kandungnya hanya menumpang dirumah itu, tidak punya hak dan otoriter sama sekali, karena sepenuhnya kontrakan rumah itu yang bayar dan atas nama pengontrak anak perempuannya itu, yang seharusnya dan sudah sewajarnya ditempati / ditinggali berdua dengan anak laki-lakinya tanpa ada intervensi maupun penekanan penindasan dan perampasan hak-hak hidupnya… oleh siapapun seperti yang dilakukan oleh Bapak kandungnya sendiri . Memohon bantuan dan pendamping dari Relawan Agar mereka berdua bisa hidup tentram damai sejahtera mendapatkan hidup yang layak sebagai manusia, menggapai harapan masa depan anak / cucu laki-lakinya yang sekarang sudah kelas tiga SMP yang sebentar lagi harus menghadapi Ujian Nasional….butuh ketenangan dan kedamaian hati yang lembut dan sejuk penuh cinta kasih ( Cucunya sejak lahir tidak mengenal dan belum pernah sama sekali bertemu Bapak kandungnya, karena begitu lahir Bapak dan Ibunya langsung cerai, dan sampai saat ini diasuh Ibunya sendiri sampai sekarang)
    Dalam hal ini hubungan saya dengan korban adalah sahabat lama sejak kelas lima SD di kota Solo, dan sejak lulus SMA kami Terpisah hingga dua puluh tahun kemudian saya dan korban bertemu kembali
    ( 1988 -2008 kami terpisah). Kira-kira baru enam bulan ini kami bertemu kembali….dengan tidak sengaja mendapatkan no telponnya dari sahabat sekolah di SD juga, dan sejak itu saya terus melakukan kontak dan hubungan sebagai seorang sahabat / saudara, dan pernah mengadakan pertemuan langsung dua kali di Solo, di rumah keluarganya. Pertama bertemu sendiri dngnya dan kedua bertemua dng membawa anaknya ( dan Anaknya itu, sekarang secara tidak langsung sudah saya ambil sebagai Anak angkat )
    Kemudian posisi perempuan itu pada saat ini menjanda sudah lebih dari dua belas tahun lamanya, dan selalu dalam cengkraman serta kekuasaan Bapaknya yang tidak wajar sebagai Bapak kandunganya tapi juga sulit dimengerti sebab Dia Bapak kandungnya tapi juga seperti suaminya. Apabila ada laki-laki yang dekat, ingin mengikat jalinan dan berhasrat untuk menikahi mengambil istri perempuan itu, ( ada dua Laki-laki yang udah pernah mau menikahi perempuan itu, yang pertama beristri dan yang kedua bujangan ) Bapak kandungnya pasti ngamuk, marah, cemburu tanpa alasan yang jelas, menghasut setiap laki-laki yang mau dekat dengan anak perempuannya itu, menghajar, memukuli bahkan sampai berdarah kalau memar saja sudah sering mereka rasakan … (info dari korban saat nelpon ke saya sambil menangis), memaksa korban untuk tidak melakukan hubungan dengan laki-laki manapun yang mau mengambil istri.
    Seperti pada saat ini saat anak perempuannya itu berhubungan dengan saya yang hanya sebatas sebagai sahabat karena saya sendiri sudah punya dua anak sebagai Amanah dan istri tercinta, hanya karena rasa cemburu yang tidak jelas dari Bapaknya saja, perempuan itu dipaksa dan disakiti untuk tidak berhubungan dengan saya, ( sejak ketemu saya sudah tiga kali dianiaya, saya dengarkan langsung dari suara Hp) dengan melecehkan dan penekan mental dan perampasan hak hidupnya… selain itu saat sendiri dirumah maupun berdua dirumah bersama ibunya, cucunya juga sebagai sumber pelampiasan kekerasan dan kemarahan Kakeknya saat kakeknya marah sama ibunya cucunya juga dipukuli dan dicerca pertanyaan yang menekan dan mengancam untuk mau memberikan informasi semua tentang ibunya, saat punya hubungan dengan laki-laki, seperti saya ini misalnya, dan kalau si cucunya itu sudah tidak tahan terus pergi keluar rumah dia rasakan rumah itu seperti neraka dan mengerikan menghantui Trauma untuk ditinggali , tertekan dan sepintas dari
    sepengetahuan saya, anak itu, seperti anak yang bingung tidak punya rasa percaya diri yang tegar, selalu tertutup dan malu untuk berkomunikasi dng orang banyak. Sewaktu ketemu saya di keluarga Solo selama satu minggu, dan ketika akan kembali ke Jakarta di Stasiun Solo Balapan karena harus masuk sekolah anak itu menangis Histeris Trauma tidak mau kembali pulang ke Jakarta . Teriak-teriak ibunya disuruh pulang sendiri ke Jakarta …
    Anak itu bilang Jakarta penuh tipu daya, rumah seperti neraka Umi pulang sendiri aja Kakek Jahat,Kakek galak, dan Ibunya-pun juga bingung sedih tak berdaya ikut menangis,menjadi perhatian orang banyak, hingga membuat orang di sekitar yang melihat ikut terharu dan bahkan ada Ibu-ibu yang ikut melinangkan air mata melihat kejadian itu… Akhirnya dengan bantuan Satpam Stasiun anak itu bisa dipaksa masuk ke dalam kereta , sedangkan kita keluarga yang di Solo terus memantau perjalanan mereka ke Jakarta, Tapi di Stasiun Tugu Yogjakarta Anak itu Histeris lagi nekat mau loncat turun melarikan diri dari kereta Argo lawu jurusan Jakarta itu.
    Ketika saya tanyakan kepada perempuan sahabat saya itu :
    Kenapa semua kejadian kekerasan dan penekanan terhadap diri kamu dan anakmu itu kamu sembunyikan ?
    Jawabnya : karena semua ini memalukan tak perlulah orang lain tahu, biar semua aku jalani sendiri….walau hati ini tersiksa ..walau badan dan tubuh ini sakit…aku capek.. aku capek dengan semua ini… aku ingin meninggalkan semua yang ada dalam hidupku pergi jauh tak akan pernah kembali dan tak akan ada satu orangpun tahu kemana aku menghilang dan pergi nanti…..biar semua aku bawa sendiri derita ini…. Aku udah capek (sambil terus menangis)

    Memang butuh suatu keberanian untuk melawan semua Kedzoliman yang ada, butuh Ketegasan yang kuat sesuai dengan koridor hukum yang baik dan benar, untuk membebaskan kedua korban dari kekerasan dan cengkraman yang tidak wajar dari Bapak kandungnya.
    Saya lakukan semua ini semata-mata dari sisi kemanusian dan rasa kepedulian saya terhadap kaum perempuan dan anak-anak yang telah menjadi korban kekerasan serta terampas hak-hak hidupnya.
    Dan saya akan terus berusaha untuk memberitahukan kepada siapapun
    Pihak-pihak maupun Instansi terkait, Relawan yang peduli dan bisa membantu perempuan dan anaknya itu untuk bisa hidup wajar merasakan kebebasan dan hak-hak hidupnya.. bisa hidup bahagia penuh dengan kedamaian dan kesejukan hati tanpa ada lagi intervensi, penekanan , penindasan, dan pemaksaan, pelecehan yang tidak jelas dan tidak wajar dari Bapak kandunganya sendiri, yang selalu menekan-kan kehendak dan kemauannya yang selalu harus dituruti tanpa mempertimbangkan Hak-hak hidup seseorang…
    tanpa ada rasa peduli sedikitpun.
    Selain itu juga sudah saya beritahukan hal ini kepada tetangga terdekatnya yang berhadapan pintu dengan rumah perempuan sahabat saya itu, yaitu Ibu Ine. Kemudian juga keluarga sahabat karibnya Bapak Aan, Ibu Leni, dan Ibu Mertuanya. Sedangkan Ibu Leni saat ini bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit A.L Mintoharjo, yang siap dan bersedia untuk membantu melakukan Visum At-interim apabila dalam waktu terdekat ini ada kekerasan phisik lagi terhadap kedua korban. Dan bersama dengan teman-teman siap melaporkan secara langsung ke Polsek Setempat disaat kejadian sedang berlangsung.
    Dan pada tgl 24- Agustus- 2008 perempuan sahabat saya itu mengalami depresi yang sangat berat, sakit-sakitan sampai tidak bisa bersuara. Sulit tidur dan pusing berat yang sering dirasakannya…
    bahkan itu sudah dirasakan bertahun-tahun lamanya….tanpa ada orang yang tahu dan bahkan selalu dia tutup-tutupi oleh Korban perbuatan bejat Bapak kandungnya, padahal perempuan itu ngomong ke saya bahwa seumur hidupnya tidak akan pernah memaafkan perbuatan Bapaknya terhadap dirinya dan anaknya / cucunya. Tapi dia tak berdaya, tak bisa untuk lepas dari cengkraman kekuasaan yang menindas dari Bapaknya, takut untuk bertindak maupun melapor.

    Dan kemarin tgl 22- Agustus- 2008 Bapaknya itu ke Solo untuk mendatangi rumah saya, dengan maksud dan tujuan serta motif apa yang tidak jelas, Bapaknya itu menemui istri saya cuma minta no telp rumah saya dan kalau no hp saya dia katakan sudah punya serta berbohong mengaku warga dari desa dimana saya tinggal saat masih anak-anak dulu.( desa Jurug). Dan juga menanyai pekerjaan saya sekarang . Cuma yang saya sesalkan Bapaknya itu memang sungguh pengecut tidak berani menemui / mencari saya tatap muka secara langsung.

    Kiranya demikian yang bisa saya sampaikan sebagai wujud kepedulian kita sebagai sahabat-sahabatnya Pak Yitno saya sendiri , Pak Aan, Ibu Leni, Ibu Ine dan mertua Ibu leni, Semua keluarga besar Korban di Solo.. Semoga dari segi dan sisi kemanusiaan ada kepedulian dari berbagai pihak yang terkait dan sudilah kiranya untuk membantu / mendampingi kedua korban untuk bisa membela diri agar hidup bebas lepas dari cengkraman Bapak kandungnya sendiri.
    Semoga dengan segala apa yang telah saya paparkan ini ada kepedulian mendampingi korban untuk melapor ke pihak yang terkait. Dan saya siap membantu bersama teman-teman tersebut diatas untuk memberikan motifasi dan semangat kepada kedua korban.. memberikan keterangan semestinya
    demi harkat dan martabat kaum perempuan dan anak-anak, yang tertindas, pelecehan dari sebuah cengkraman yang menekan dan menyiksa batinnya.
    Dalam hal ini, atas semua kejadian yang terjadi diatas saya sebagai sahabat dan atas keinginan kedua korban memohon bantuan kepada siapapun yang peduli untuk membantu melepaskan dirinya dari cengkraman dan kekuasaan Bapak kandungnya yang semena-mena itu. Dengan ketentuan hukum yang berlaku, karena kedua korban tidak mampu dan tak berdaya untuk berbuat sendiri tanpa pendamping, untuk melangkah melaporkan ke pihak berwajib. Memohan perlindungan dan bimbingan untuk mendapatkan hak-haknya sebagai korban kekerasan (KDRT).

    Permohonan Yang diharapkan oleh korban
    Minimal dalam waktu dekat dan secepatnya membantu dan mendampingi korban untuk membuatkan surat pernyataan oleh pihak berwajib, kepada Bapak Kandungnya untuk tidak tinggal satu rumah lagi dengan anak cucunya itu, tidak lagi melakukan kekerasan dan memaksakan kehendak yang menekan dan merampas hak-hak hidupnya. Dengan surat pernyataan resmi yang dilandasi hukum oleh pihak berwajib….
    Karena bagaimanapun rumah itu rumah milik kedua korban, Walau Cuma rumah kontrakan Karena Bapaknya di rumah itu hanya numpang tingggal.. yang sama sekali tidak punya hak s atas semua yang ada dirumah itu.

    Dan sebagai tambahan informasi, berdasarkan apa yang pernah saya lihat secara langsung Foto copy surat nikah yang saya dapatkan dari tantenya yang di Solo, ada kejanggalan surat nikah milik korban diatas tersebut.
    Walau pada saat ini status perempuan sahabat saya itu sudah menjanda lebih dari dua belas tahun tapi kejanggalan pada surat nikahnya sangat mencurigakan, karena pada saat itu mereka berdua asli penduduk DKI Jakarta dan Nikah di Jakarta, tapi Bapaknya kandungnya itu bisa menerbitkan surat Nikah dari Sukabumi Jawa Barat….. barang bukti sekarang ada di tantenya yang di Solo.

    Ringkasan Data Penunjang
    Pelaku kekerasan
    Nama : Bapak Bari
    Umur : ?
    Alamat : Rusun Karet Tengsin
    Jl. Karet Pasar Baru Barat 1.
    Rt 18 / Rw 17
    No: 403, Blok B4, Lantai 4,
    Tanah Abang
    Jakarta Pusat 10220

    Korban Kekerasan
    1. Anak perempuannya sendiri.
    Nama : Sri Rahayu
    Umur : 38 Th
    Alamat : Rusun Karet Tengsin
    Jl. Karet Pasar Baru Barat 1.
    Rt 18 / Rw 17
    No: 403, Blok B4, Lantai 4,
    Tanah Abang
    Jakarta Pusat 10220
    Ket. Tambahan : Saat ini bekerja bekerja di Mini
    Market Ceria Mart
    Depan rumah sakit Mintoharjo
    Jakarta Pusat
    sebagai AsMen,
    No Hp : 081381129228
    panggilan akrab Ibu Ayuk.

    2. Cucunya sendiri.
    Nama : Bayu Rangga pranata Santiajie
    Umur : 13 Th
    Alamat : Rusun Karet Tengsin
    Jl. Karet Pasar Baru Barat 1. Rt
    18 / Rw 17
    No: 403, Blok B4, Lantai 4,
    Tanah Abang
    Jakarta Pusat 10220
    Ket. Tambahan : Saat ini tercatat sebagai siswa
    kelas sembilan
    SMP Negeri 38 Jakarta Pusat
    No Hp : 081329771110

    Teman-teman yang simpati dan peduli dengan kedua korban

    Saya sendiri
    Nama : Joko Prayitno
    Umur : 40 Th
    Alamat : Jl. Nusa Indah No :5A Perumnas Palur
    Ngringo 57772, Jaten, Karanganyar
    Jawa Tengah. No Hp: 081393432260

    Tetangga depan Rumah
    Nama : Ibu Ine
    Umur : 28 Th
    Alamat : Rusun Karet Tengsin
    Jl. Karet Pasar Baru Barat 1.
    Rt 18 / Rw 17
    Lantai 4, Tanah Abang,
    Jakarta Pusat 10220
    No Telp: 021-71333534
    Sahabat karib.
    Bapak Aan, dengan Istrinya Ibu Leni, dan Ibu Mertuanya
    Ketiganya tinggal di Balaraja, Serang Banten…
    No telepon yang bisa dihubungi : 081310417344
    Dan pada saat Email ini saya tulis kedua Korban mengungsi
    Berlibur dirumah keluarga ini. Dalam rangka libur awal puasa.

    Keluarga Besar Kedua Korban Di Solo
    Om. Tante. Sepupu dan Keponakan – keponakan

    Demikianlah , semoga apa yang telah saya paparkan ini bisa membantu dan meringankan beban penderitaan korban Saudari Ibu Sri Rahayu dan anaknya Bayu Rangga pranata Santiajie, untuk segera dan secepatnya bisa bebas lepas dari cengkraman angkara murka dan kebiadaban bapak kandungnya sendiri
    Amin……………amin………..amin
    Terima Kasih

    Wasalamualaikum Wr.Wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: